
SOLUSIMEDIA.ID — Pemerintah Indonesia semakin menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menjadi “mesin baru” dalam penggerak ekonomi kreatif nasional. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyatakan bahwa AI dapat mempercepat produksi, meningkatkan efektivitas pemasaran digital, serta membuka akses pasar global bagi subsektor seperti desain, animasi, gim, aplikasi, dan kreativitas konten lainnya.
Teuku Riefky juga menekankan bahwa kreativitas manusia tetap menjadi inti dari ekosistem kreatif. AI diposisikan sebagai kolaborator, bukan pengganti kreator.
Meski peluang besar terbuka lebar, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Salah satu isu utama adalah perlindungan hak cipta dan penggunaan karya-karya kreatif sebagai data latih AI, di mana regulasi saat ini belum sepenuhnya mengatur hal tersebut. Selain itu, literasi digital dinilai masih perlu ditingkatkan agar pelaku kreatif tidak tertinggal dalam memanfaatkan teknologi.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif sedang menyiapkan kerangka strategis, yang mencakup riset & inovasi, perlindungan kekayaan intelektual, harmonisasi regulasi, serta dukungan bagi startup lokal AI.
Selain itu, AI juga telah dimasukkan ke dalam paket stimulus ekonomi pemerintah, yang terdiri dari 17 program stimulus. Salah satunya program magang bagi lulusan perguruan tinggi yang difokuskan pada sektor digital. Pemerintah juga merencanakan proyek percontohan di DKI Jakarta untuk memperkuat pekerja ekonomi gig, dan menyediakankan ruang co-working di lokasi strategis seperti Tanah Abang dan Blok M.
Dengan semua inisiatif ini, pemerintah berharap kontribusi ekonomi kreatif—yang pada 2024 telah mencapai lebih dari Rp 1.500 triliun terhadap PDB dan menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja — akan terus meningkat, menjadikan sektor kreatif sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.(*)





