
SOLUSIMEDIA.ID, PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus menggencarkan budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik.
Upaya ini digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) PPU dan didukung oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Biawan.
Ketua Pokdakan Bintang menyampaikan pentingnya pengembangan budidaya maggot dalam Rapat Koordinasi Bank Sampah Go Green yang digelar di Hotel IKA Petung.
Bintang menjelaskan bahwa larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau dikenal sebagai maggot, memiliki kemampuan mengurai sampah organik dalam waktu singkat.
“Satu kilogram maggot bisa menghabiskan hingga 2–5 kilogram sampah organik per hari,” ungkapnya. Maggot ini mampu menguraikan sampah hingga beberapa kali lipat dari bobot tubuhnya, dan sisa pencernaan maggot menghasilkan pupuk organik berkualitas yang disebut kasgot.
Lebih lanjut, maggot juga berpotensi menjadi alternatif pakan ternak. Kandungan protein tinggi dalam maggot membuatnya ideal sebagai pakan yang dapat dicampur dengan pakan komersial atau diberikan langsung. Dalam proses pengembangannya, pihak Pokdakan Biawan rutin mengumpulkan limbah sayuran dari pasar setempat untuk digunakan sebagai makanan maggot.
Selain itu, Bintang juga menyatakan bahwa mereka tengah mengembangkan pelet ikan dari maggot sebagai langkah penghematan biaya pakan hingga 30 persen.
“Maggot dapat mengurangi jumlah sampah organik dan dapat menjadi potensi ekonomi budidaya,” ujarnya. Ia menambahkan, jika setiap kelurahan memiliki fasilitas budidaya maggot dengan kapasitas produksi 20 kilogram per siklus, maka sampah harian yang dapat dikurangi mencapai 60 kilogram.
Program ini diharapkan menjadi model ekonomi sirkuler, memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat.





