BusinessNewsRegional

Dampak Faktor Geopolitik dan Perubahan Iklim Di Sulsel Masih Aman, Aktivitas Produksi dan Konsumsi Masyarakat Tetap Kuat

 

Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan saat konferensi pers untuk merilis kinerja APBN regional Sulawesi Selatan periode s.d. 30 November 2024 , Kamis, 19 Desember 2024 secara daring.

Tingkat Inflasi Sulawesi Selatan pada November 2024 mencatatkan performa yang baik sebesar 1,55% (yoy), berada pada rentang sasaran 3%+1. Tingkat inflasi month-to-month (m to m) sebesar 0,30% dan tingkat inflasi year to date (ytd) sebesar 1,12%.

Sementara itu perkembangan ekonomi Regional Sulawesi Selatan dari sisi harga komoditas energi, pangan dan Tambang masih fluktuatif. Selain permintaan dan penawaran, volatilitas harga juga dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan perubahan iklim. Namun, meski kinerja sektor manufaktur tertahan, indikator konsumsi masih kuat. Tercatat indeks Optimisme Masyarakat sebesar 125,9, indeks penjualan Riil tetap tumbuh positif 1,7, dan penjualan listrik bisnis dan industri tetap tumbuh positif di 3,6 dan 1,5.

Dari sisi ekspor – impor , sama halnya periode sebelumnya, komoditi mate nikel mengalami penurunan growth (yoy) sebesar 23,3%, sedangkan fero-nikel masih menjadi komoditi unggulan Provinsi Sulawesi Selatan dengan growth (yoy) sebesar 28,2%. Negara tujuan ekspor terbesar adalah Jepang dan Cina. Sedangkan dari sisi Impor, Cina dan Brazil menjadi negara pengimpor terbesar, dengan komoditas impor terbesar masih berasal dari Gandum dan Gula.

BACA JUGA  Satu Komando Pangan: Istana Jelaskan Alasan Amran Sulaiman Rangkap Jabatan

Neraca Perdagangan November 2024 surplus sebesar 51,22 Juta US$. Nilai ekspor tercatat 136,51 Juta US$, sementara nilai impor tercatat 85,28 Juta US$. Secara umum neraca perdagangan kumulatif Januari – November 2024 mengalami penurunan sebesar 0,53 (yoy). Neraca perdagangan ini melanjutkan tren surplus sepanjang 49 bulan terakhir.

Disampaikan pula pendapatan APBN Sulsel s.d. 30 November 2024 mencapai Rp15,53 Triliun atau 87,95% dari target, meningkat sebesar 6,85% (yoy). Belanja APBN Sulsel s.d. 30 November 2024 mencapai Rp50,58 Triliun atau 86,96% dari pagu, meningkat sebesar 8,49% (yoy). Pertumbuhan Belanja dan APBN Sulsel masih menjadi epicentrum perekonomian di Pulau Sulawesi.

BACA JUGA  DLH PPU Siapkan TPA Buluminung Jadi TPST Dengan Anggaran Kementrian PUPR

Kinerja APBN Anging Mammiri hingga November 2024 tetap terjaga positif dan terakselerasi, namun risiko APBN terus diantisipasi dan dimitigasi. Peran APBN sebagai shock absorber terus dioptimalkan untuk memastikan konsistensi macro-policy mix dalam rangka mendorong pertumbuhan sekaligus menjada stabilitas perekonomian.

Dari data penerimaan Pajak s.d. 30 November 2024 mencapai Rp11,88 Triliun atau 81,82% dari target tahun 2024 sebesar Rp14,52 Triliun, meningkat 7,91% (yoy). Penerimaan PPN mengalami pertumbuhan negatif disebabkan aktivitas ekonomi yang melambat pada sektor pertambangan, serta penurunan beberapa wajib pajak transportasi laut.

Penerimaan Pajak Lainnya juga mengalami pertumbuhan negatif sebesar 19,60% yang disebabkan penurunan setoran Bunga Penagihan PPh dan PPN. Namun Penerimaan PPh dan PBB mengalami pertumbuhan positif dari kenaikan setoran PPh 21 dan tunggakan PBB sektor perkebunan pada masa sebelumnya. Kinerja penerimaan pajak s.d. November 2024 ditopang dari Sektor Perdagangan, Administrasi Pemerintahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Industri Pengolahan, dan Pertambangan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button