
SOLUSIMEDIA.ID, Jakarta, 4 Maret 2025 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rapat Dewan Komisioner Bulanan yang digelar pada 26 Februari 2025, mengungkapkan bahwa sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga stabil meskipun tantangan ekonomi global dan domestik semakin signifikan.
Meskipun perekonomian dunia menghadapi stagnasi pada awal tahun 2025, sektor keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi.
Ketidakpastian ekonomi global, ditambah dengan inflasi yang menurun di negara-negara maju, menciptakan dinamika pasar yang mempengaruhi sektor keuangan.
Gejolak geopolitik, seperti ketegangan yang berlanjut di Ukraina, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi, meningkatkan volatilitas pasar.
Di Amerika Serikat, meskipun tingkat pengangguran menurun menjadi 4 persen, inflasi dan pasar tenaga kerja memberikan tekanan harga yang cukup signifikan, meskipun diprediksi ada pemangkasan suku bunga yang terbatas sepanjang tahun ini.
Sementara itu, di Tiongkok, perekonomian tercatat melambat dengan CPI yang hanya 0,5 persen, dan kontraksi pada harga produsen (PPI), yang berpotensi memperlambat industri global.
Di dalam negeri, meskipun sektor otomotif dan properti mengalami penurunan, sektor manufaktur Indonesia menunjukkan ekspansi positif dengan PMI Manufaktur yang naik ke angka 51,9.
Di tengah ketidakpastian tersebut, OJK memastikan stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga, mendukung perekonomian dari sisi permintaan dan penawaran.
Pelemahan Pasar Modal dan Positifnya Kinerja Pasar Obligasi
Pada akhir Februari 2025, pasar saham domestik tercatat melemah signifikan dengan penurunan sebesar 11,80 persen bulan-ke-bulan (mtd) pada level 6.270,60.
Nilai kapitalisasi pasar juga tercatat menurun menjadi Rp10.879,86 triliun, turun 11,68 persen mtd. Meskipun ada penurunan signifikan pada sektor energi dan infrastruktur, pasar saham Indonesia mengalami peningkatan likuiditas, dengan rata-rata transaksi harian naik menjadi Rp11,60 triliun.
Di sisi lain, pasar obligasi Indonesia menunjukkan tren positif. Indeks pasar obligasi Indonesia (ICBI) menguat 1,14 persen mtd, mencapai 400,21.
Yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata juga turun 13,61 basis poin. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp8,86 triliun di pasar obligasi, sementara pasar obligasi korporasi mengalami penurunan dengan net sell sebesar Rp0,21 triliun.
Kinerja Positif di Sektor Perbankan dan Asuransi
Sektor perbankan Indonesia menunjukkan kinerja positif, dengan pertumbuhan kredit pada Januari 2025 tercatat sebesar 10,27 persen yoy, mencapai Rp7.782 triliun.
Pertumbuhan kredit investasi mencatatkan angka tertinggi, yakni 13,22 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 5,51 persen yoy menjadi Rp8.879,2 triliun.
Likuiditas perbankan tetap terjaga dengan rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) yang berada di angka 211,20 persen, jauh di atas batas minimum.
Sektor asuransi Indonesia mencatatkan total aset sebesar Rp1.146,47 triliun pada Januari 2025, meningkat 2,14 persen yoy, meskipun ada penurunan pendapatan premi pada asuransi komersil sebesar 4,10 persen yoy.
Di sisi lain, sektor dana pensiun menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan total aset mencapai Rp1.516,20 triliun, meningkat 7,26 persen yoy.
Peningkatan Sektor Pembiayaan dan Fintech
Sektor pembiayaan Indonesia juga menunjukkan kinerja solid, dengan piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan (PP) tumbuh 6,04 persen yoy menjadi Rp504,33 triliun pada Januari 2025.
Sektor fintech peer-to-peer lending (P2P) juga berkembang pesat, dengan outstanding pembiayaan tumbuh 29,94 persen yoy menjadi Rp78,50 triliun.
Porsi pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) terus berkembang, dengan angka pertumbuhan tahunan mencapai 46,45 persen yoy. OJK terus memantau sektor ini untuk memastikan risiko kredit tetap terjaga.
Bursa Karbon Indonesia Meningkat
OJK juga mencatatkan perkembangan positif pada Bursa Karbon Indonesia, yang mulai beroperasi sejak September 2023.
Hingga akhir Februari 2025, terdapat 110 pengguna jasa terdaftar dengan total volume transaksi mencapai 1.578.443 ton CO2e, dengan nilai total transaksi sebesar Rp77,25 miliar.
OJK terus mendorong pertumbuhan pasar ini dengan melakukan kunjungan kerja ke fasilitas pembangkit listrik energi terbarukan untuk meningkatkan pasokan kredit karbon.
Secara keseluruhan, sektor-sektor jasa keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang baik, meskipun menghadapi tantangan baik dari ekonomi global maupun domestik.
OJK dan pemerintah terus berfokus pada upaya mendalami pasar modal, pengelolaan risiko, dan meningkatkan efisiensi pasar di seluruh sektor keuangan.
(*)





