
Dia mengingatkan bahwa hari-hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat dimuliakan. Banyak umat Islam yang fokus menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dan meningkatkan ibadahnya.
Gangguan suara petasan dapat mengurangi kekhusyukan mereka yang berusaha menggapai malam Lailatul Qadar.

“Ini mengganggu orang, apalagi di hari-hari terakhir di mana orang-orang konsentrasi di 10 hari terakhir Ramadan. Bisa sangat mengganggu orang yang fokus menyelesaikan bacaan Al-Qur’annya,” tambahnya.
Selain petasan, Munafri juga menyoroti fenomena sahur on the road yang kerap dilakukan oleh anak muda. Dia meminta kegiatan ini dikendalikan agar tidak menimbulkan euforia berlebihan yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Fenomena akhir Ramadan kadang anak muda keluar sahur on the road. Ini juga kalau bisa ditertibkan karena euforia berlebihan bisa berakibat fatal bagi anak-anak kita,” katanya.
Munafri pum mengajak seluruh jajaran pemerintah, baik camat maupun lurah, untuk memastikan keamanan dan kenyamanan lingkungan selama Ramadan semi menciptakan kota yang aman.
“Teman-teman Tripika, camat, lurah, terus jaga ketertiban lingkungan dan keharmonisan dalam bermasyarakat. Di bulan suci ini, kita tidak ingin ada persoalan yang bisa mengganggu nilai ibadah,” ujarnya.





