
Menurutnya, ilmu dan edukasi adalah kunci utama pencegahan stunting.
Untuk itu, Melinda mendorong ketua TP PKK kecamatan dan kelurahan menjadi garda terdepan mengedukasi masyarakat mengenai literasi gizi.
“Ibu-ibu harus menjadi contoh dan sumber informasi terpercaya di lingkungannya. Dengan edukasi dan pendampingan yang baik, kesadaran masyarakat meningkat dan generasi sehat di Kota Makassar bisa terwujud,” ujarnya.
“Makanya begitu dilantik menjadi Ketua PKK, saya berpikir pertama kali harus mendatangkan Dokter Tan untuk memberi pembekalan kepada para Ketua PKK kecamatan dan kelurahan,” tsmbahnya.
Di sisi lain, Ia kemudian mengenang masa-masa awal saat dirinya memperjuangkan pentingnya ASI eksklusif di Makassar.
“Tujuh belas tahun lalu, saya juga mengalami kegelisahan. Ilmu soal ASI waktu itu sangat kurang. Bersama teman-teman, kami membuat Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Makassar untuk saling mendukung dan belajar,” kenangnya.
Melinda berharap Makassar menjadi kota ramah anak. Salah satu caranya adalah memprioritaskan pemberian ASI eksklusif sejak bayi lahir hingga usia dua tahun.





