
Ia menekankan bahwa pembangunan kota harus dilihat dari tiga dimensi. Pertama, dimensi praktis-spasial, Kedua, dimensi representasi ruang.
Dan ketiga, yang ia nilai paling krusial, adalah dimensi ruang representasional, yakni kota sebagai ruang hidup yang benar-benar merefleksikan suara, pengalaman, dan kebutuhan masyarakat dari bawah.
Dalam konteks Makassar, Adi menilai kepemimpinan Munafri–Aliyah menunjukkan perhatian serius pada dimensi ketiga tersebut.
Ia mencontohkan kebiasaan Munafri yang aktif turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan warga, dan memastikan kebijakan tidak merugikan masyarakat kecil.
“Itu bukan sekadar kebijakan administratif, tapi sentuhan langsung yang dirasakan masyarakat. Di situ tata kelola tidak berhenti pada rencana, tetapi hadir dalam empati,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi terobosan Pemerintah Kota Makassar dalam menyelenggarakan pemilihan RT/RW secara langsung oleh warga. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah berani dan progresif dalam memperkuat partisipasi masyarakat dari level paling dasar.
“Pemilihan RT/RW itu luar biasa. Ini menyentuh langsung faktor subjektif masyarakat, yaitu rasa memiliki, rasa bertanggung jawab. Ketika dipilih langsung, kontrol sosial menjadi lebih kuat dan partisipasi tumbuh secara alami,” tegasnya.





