
Kondisi tersebut diperparah oleh hujan ekstrem yang berdasarkan informasi BMKG diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Februari.
Meski demikian, Munafri menekankan bahwa penyebab warga mengungsi bukan semata akibat ketinggian air, melainkan karena terganggunya sistem sanitasi rumah tangga.
Terendamnya fasilitas toilet dan saluran limbah membuat sebagian warga harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Makassar tengah menyiapkan langkah-langkah teknis berbasis kajian. Kajian diarahkan pada perbaikan sistem aliran air agar tidak terjebak di kawasan permukiman rawan banjir.
“Kita melakukan kajian bersama sejumlah universitas dan berkoordinasi dengan balai yang menangani sungai di Makassar, untuk menentukan alur air yang tepat dan mengurangi genangan berulang,” jelasnya.
Di tengah kondisi cuaca ekstrem ini , Munafri juga meningkatkan status kesiapsiagaan. Ia menghimbau seluruh perangkat daerah terkait, mulai dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, hingga Dinas Sosial, disiagakan untuk merespons cepat potensi bencana, termasuk menyiapkan shelter, logistik, dan kebutuhan dasar warga.





