
SOLUSIMEDIA.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh atas insiden gugurnya tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, menegaskan pemerintah mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan penyelidikan secara transparan dan menyeluruh.
“Pemerintah juga menuntut penyelidikan PBB yang cepat, transparan, dan komprehensif, serta menegaskan bahwa pelaku harus dimintai pertanggungjawaban secara hukum tanpa adanya kekebalan,” kata Djamari dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4).
Ia menilai serangan berulang terhadap prajurit TNI merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan menunjukkan rendahnya komitmen pihak-pihak yang bertikai terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian.
“Pemerintah mendorong Dewan Keamanan PBB untuk bertindak tegas, bersatu, dan konsisten dalam menindaklanjuti hasil penyelidikan demi menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian,” ujarnya.
Djamari menambahkan, Kemenko Polkam sebagai pengarah Tim Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian (TKMPP) akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertahanan, TNI, serta Kementerian Luar Negeri.
“Untuk memastikan keselamatan personel di daerah penugasan, termasuk melalui peninjauan ulang protokol keamanan yang disesuaikan dengan perkembangan situasi di wilayah konflik Lebanon selatan,” katanya.
Insiden tragis tersebut terjadi dalam dua serangan terpisah di wilayah Lebanon selatan dalam kurun waktu 24 jam. Serangan pertama pada Minggu (29/3) menewaskan Farizal Rhomadhon di pos unit Indonesia dekat Desa Adchit Al Qusayr.
Sementara itu, serangan kedua pada Senin (30/3) terjadi saat kendaraan pasukan Indonesia melintas di dekat Bani Hayyan, yang menewaskan Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ichwan.
Selain korban jiwa, sejumlah personel juga dilaporkan mengalami luka-luka, masing-masing tiga orang dalam serangan pertama dan dua orang pada serangan kedua.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memastikan perlindungan maksimal bagi prajurit yang bertugas dalam misi perdamaian internasional.
(*)





