
SOLUSIMEDIA.ID, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kemunculan fenomena “Godzilla El Nino” di Indonesia pada April 2026.
Fenomena ini berpotensi semakin menguat apabila terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada kejadian El Nino dengan intensitas ekstrem. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang melampaui rata-rata normal, sehingga berdampak pada perubahan pola cuaca global.
Peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa penyebutan “Godzilla” bukan merupakan istilah ilmiah, melainkan istilah populer untuk menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan.
Fenomena ini diperkirakan akan meningkatkan suhu secara bertahap hingga 1,5 sampai 2 derajat Celsius.
Dampaknya, Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang, suhu udara yang lebih panas, serta ancaman kekeringan di berbagai wilayah.
Ahli lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Syamsudduha Syahrorini, menyebutkan bahwa sektor ketersediaan air akan menjadi yang paling terdampak.
Ia mengingatkan bahwa kondisi ini dapat memicu krisis air bersih, mengganggu sistem irigasi pertanian, hingga menurunkan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat, terutama di wilayah dengan lahan gambut yang rentan terbakar saat musim kemarau panjang.
Meski demikian, fenomena ini tidak berdampak seragam di seluruh wilayah. Beberapa daerah di Indonesia bagian utara ekuator seperti Kalimantan dan Sumatra justru berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi, sehingga meningkatkan risiko banjir.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah didorong untuk melakukan langkah mitigasi yang berkelanjutan.
Di antaranya melalui pembangunan infrastruktur penampungan air seperti embung dan waduk kecil, penerapan sistem irigasi hemat air, serta penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan.
Selain itu, upaya reforestasi dan perlindungan lahan gambut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan siklus air.
Penguatan sistem pemantauan titik panas (hotspot) serta pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi bagian dari strategi mitigasi modern.
Di sektor energi, peningkatan pemanfaatan energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dapat menjadi solusi alternatif saat intensitas panas meningkat.
Sementara itu, masyarakat juga diimbau melakukan langkah sederhana untuk mengurangi dampak panas, seperti menjaga ventilasi rumah, menggunakan pakaian berbahan ringan, menanam pohon sebagai peneduh, serta memastikan asupan cairan tubuh tetap terpenuhi.
Dengan kesiapsiagaan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, dampak dari fenomena “Godzilla El Nino” diharapkan dapat diminimalkan secara optimal.
(*)





