Rusia Desak AS Cabut Ultimatum ke Iran, Serukan Kembali ke Meja Negosiasi

SOLUSIMEDIA.ID — Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mendesak Amerika Serikat untuk mencabut ultimatum terhadap Iran dan kembali menempuh jalur diplomasi guna meredakan ketegangan di kawasan.
“Rusia mengekspresikan harapan bahwa segala bentuk upaya untuk deeskalasi tensi soal konflik di Iran yang akan berhasil. Pencabutan ultimatum akan mengembalikan arah negosiasi,” ungkap Lavrov, dikutip dari The Moscow Times, Senin (6/4/2026).
Sebelumnya, Amerika Serikat dilaporkan memberikan ultimatum kepada Iran untuk segera membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jika tidak dipenuhi, Washington disebut akan melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Dalam komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Lavrov menekankan agar tidak ada serangan terhadap infrastruktur sipil. Keduanya sepakat bahwa serangan terhadap fasilitas sipil merupakan tindakan ilegal yang melanggar hukum internasional.
Di tengah meningkatnya ketegangan, perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom, mulai mengevakuasi pekerjanya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran. Sejumlah teknisi asal Rusia diketahui bekerja di fasilitas tersebut.
Sementara itu, penasihat luar negeri Rusia, Yuri Ushakov, menyatakan bahwa kapal-kapal Rusia masih diperbolehkan melintasi Selat Hormuz meskipun wilayah tersebut mengalami blokade de facto oleh Iran.
“Bagi kami, Selat Hormuz masih terbuka. Rusia, China, dan India termasuk negara bersahabat dengan Iran yang diperbolehkan melintasi rute perdagangan tersebut,” terangnya.
Sebagai salah satu eksportir minyak terbesar di dunia, Rusia dinilai tidak terlalu bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang melewati jalur tersebut.
Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, melontarkan tudingan serius terhadap Rusia. Ia menyebut Moskow telah membantu Iran memetakan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Pagi ini, saya sudah mendapatkan informasi bahwa fasilitas militer AS di Timur Tengah dan Teluk difoto oleh satelit Rusia untuk kepentingan Iran. Mereka sudah mengambil citra satelit Pangkalan Militer Prince Sultan di Arab Saudi,” katanya, dikutip dari Politico.
Ketegangan geopolitik yang terus meningkat ini dikhawatirkan dapat memperluas konflik di kawasan serta berdampak signifikan terhadap stabilitas energi global.
(*)





