
SOLUSIMEDIA.ID,MAKASSAR, – Pemerintah Kota Makassar, mengantisipasi langka strategis menghadapi ancaman musim kemarau ekstrem di pertengahan tahun 2026 ini.
Dampak El Nino diperkirakan tidak hanya memicu kekeringan berkepanjangan dan penurunan curah hujan secara drastis, tetapi juga berisiko menekan ketahanan pangan serta meningkatkan potensi gangguan kesehatan masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan saat memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Fenomena El Nino di Balai Kota Makassar, Kamis (16/4/2026), yang dihadiri jajaran strategis mulai dari Sekretaris Daerah, BPBD, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga seluruh camat se-Kota Makassar.
“Melalui forum ini, kita mulai menyusun langkah konkret dan terintegrasi, memastikan setiap perangkat daerah bergerak cepat dan adaptif dalam menghadapi potensi krisis air yang ditimbulkan oleh perubahan iklim ekstrem El-Nino,” jelas Munafri.
Pemkot Makassar memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino 2026 dengan menempatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebagai pusat komando dalam penanganan krisis, khususnya terkait ancaman kekeringan dan distribusi air bersih.
Munafri menegaskan bahwa seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) hingga jajaran camat harus bergerak terpadu, namun pelaksanaan teknis di lapangan akan ditumpukan pada BPBD sebagai leading sector.
“Ke depan akan dikomandoi di BPBD. menjadi aktor utama untuk memastikan seluruh proses berjalan, termasuk ketersediaan dan distribusi air,” tutur Appi.
Menurutnya, krisis air bukan sekadar persoalan ketersediaan, tetapi memiliki efek berantai yang luas. Mulai dari meningkatnya risiko penyakit menular, gangguan aktivitas pendidikan, hingga potensi konflik sosial di tengah masyarakat.
Seluruh OPD diminta memastikan sistem komunikasi dan koordinasi berjalan efektif. Appi mencontohkan perlunya simulasi konkret di wilayah Kecamatan dengan menghitung secara pasti dari mana sumber air diambil.
Selain krisis air, ia juga menekankan potensi peningkatan risiko kebakaran akibat suhu panas dan angin kering yang mempercepat penyebaran api.
Di sektor kesehatan, Pemkot Makassar juga mengantisipasi lonjakan kasus penyakit seperti ISPA, penyakit kulit, dehidrasi, hingga potensi peningkatan penyakit menular seperti tuberkulosis (TB).
Dengan antisipasi yang matang, Munafri meminta petugas lapangan, termasuk BPBD, Damkar, camat, dan lurah, untuk menggunakan alat pelindung diri seperti masker saat bertugas.
Sementara Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Fadli Tahar, menjelaskan bahwa fenomena El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada penurunan curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, fenomena El Nino kerap berpasangan dengan La Nina dalam siklus iklim global,” paparnya.
Peristiwa serupa pernah terjadi pada 1997–1998, 2015–2016, serta 2023 yang saat itu Makassar menetapkan status darurat kekeringan.
Sekarang masuk siklus 2026, setelah sebelumnya 2025 dipengaruhi La Nina yang cenderung basah.
“Ketika suhu laut memanas, maka potensi kekeringan panjang akibat el
Nino menjadi sangat tinggi,” jelasnya.
Aksi nyata dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB), juga dilibatkan, termasuk organisasi kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa, PMI, Baznas, serta relawan seperti Kalla Rescue serta Bosowa Peduli.
Pemkot Makassar juga telah memiliki dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) untuk berbagai jenis bencana, termasuk kekeringan.
Fadli menyebutkan, terdapat tiga dampak utama yang harus diantisipasi selama periode El Nino, yakni krisis air bersih, peningkatan risiko kebakaran, serta gangguan kesehatan masyarakat.
“Krisis air menjadi dampak paling awal dan paling terasa. Bahkan di musim hujan saja, beberapa wilayah seperti Tallo sudah mengalami kekurangan air bersih,” ungkapnya.
Puncak dampak diperkirakan terjadi hingga Oktober, dengan intensitas tertinggi sekitar bulan tersebut.
BPBD Makassar telah memetakan sedikitnya enam kecamatan yang diprediksi mengalami dampak paling signifikan, yakni Kecamatan Tallo, Panakkukang, Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, dan Ujung Tanah.(*)





