
Ia menjelaskan, kampanye tersebut sejalan dengan gerakan pengelolaan sampah yang mendorong agar sampah tidak hanya berakhir di TPA, tetapi juga dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Melinda turut menyerahkan lunch box secara simbolis kepada para siswa. Penggunaan lunch box dinilai menjadi solusi sederhana untuk mengurangi sampah makanan karena makanan yang belum habis dapat disimpan dan dibawa pulang.
Usai sosialisasi, Melinda bersama jajaran TP PKK Kota Makassar meninjau sejumlah titik di lingkungan sekolah. Ia menilai SMP Negeri 11 Makassar memiliki potensi area yang cukup luas untuk mendukung pengelolaan sampah mandiri, termasuk pengembangan bank sampah sekolah.
Sementara itu, narasumber kegiatan, Andi Nurdiansyah, memaparkan pentingnya pengurangan sampah pangan sejak dari sumbernya agar tidak terus menumpuk di TPA.
Ia menyebut sekitar 50 hingga 60 persen sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir berasal dari sisa makanan atau food waste yang berpotensi menghasilkan gas metana dan berdampak buruk bagi lingkungan.
Selain itu, para siswa juga diberikan edukasi terkait pengolahan sampah organik melalui kompos, teba, hingga pemanfaatan maggot atau Black Soldier Fly (BSF) dengan metode tumpul maupun open windrow.





