NasionalNews

Prabowo Soroti Pelemahan Rupiah, Ini Dampaknya bagi Masyarakat Desa

SOLUSIMEDIA.ID, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dengan santai. Menurutnya, masyarakat desa tidak perlu terlalu khawatir terhadap fluktuasi kurs dolar karena aktivitas ekonomi sehari-hari mereka tidak menggunakan mata uang asing.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peresmian operasional Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, ia menilai dampak langsung pelemahan rupiah lebih dirasakan oleh kelompok masyarakat yang sering melakukan transaksi luar negeri.

“Selama Menteri Keuangan bisa senyum, tenang aja. Enggak perlu kalian khawatir. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, yang pusing yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/5/2026).

Dalam pidatonya, Presiden menekankan bahwa roda perekonomian masyarakat desa pada umumnya masih berbasis rupiah dan aktivitas lokal, sehingga tidak secara langsung terhubung dengan transaksi mata uang asing.

Meski demikian, para ekonom menilai pelemahan nilai tukar rupiah tetap memiliki dampak yang cukup besar terhadap masyarakat, termasuk warga desa. Sebab, banyak kebutuhan pokok, energi, hingga bahan produksi masih berkaitan dengan impor yang dibayar menggunakan dolar AS.

Pada perdagangan Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp17.662 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga barang dan biaya hidup masyarakat.

BACA JUGA  Siapkan Anggaran, Pemkot Makassar Nyatakan Komitmennya Dukung Pembangunan Stadion Baru

Berikut sejumlah dampak pelemahan rupiah yang dinilai dapat dirasakan masyarakat desa:

1. Harga BBM Berpotensi Naik

Pelemahan rupiah membuat biaya impor minyak mentah dan bahan bakar menjadi lebih mahal karena transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, terutama BBM non subsidi.

Dampaknya akan terasa hingga ke desa melalui meningkatnya biaya transportasi, distribusi barang, ongkos angkutan hasil pertanian, hingga biaya perjalanan masyarakat sehari-hari.

Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Makassar, Profesor Hamid Paddu, mengatakan penyesuaian harga BBM biasanya mengikuti mekanisme pasar.

“Begitu bahan bakunya naik, maka harga BBM juga berpotensi ikut naik,” ujarnya.

2. Harga Kebutuhan Pokok Ikut Meningkat

Banyak bahan pangan maupun bahan baku industri di Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, harga barang impor menjadi lebih mahal dan berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.

Masyarakat desa dengan pendapatan terbatas dinilai menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak tersebut, terutama pada kebutuhan harian seperti minyak goreng, gula, tepung, hingga bahan pangan lainnya.

3. Biaya Produksi Petani dan Nelayan Naik

Kenaikan nilai dolar juga berdampak terhadap harga pupuk, pestisida, pakan ternak, hingga alat pertanian yang masih menggunakan bahan baku impor.

Akibatnya, biaya produksi petani dan nelayan menjadi lebih tinggi, sementara harga hasil panen maupun tangkapan tidak selalu ikut naik secara seimbang.

BACA JUGA  Pemkot Makassar Siapkan Festival Muara, Panggung Sungai, Laut, dan Budaya Lokal

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengatakan tekanan ekonomi mulai terasa di lapangan akibat kenaikan biaya impor, energi, dan distribusi.

“Meskipun inflasi masih relatif rendah, tekanan biaya mulai dirasakan masyarakat,” jelasnya.

4. Daya Beli Masyarakat Menurun

Pendapatan masyarakat desa umumnya tidak meningkat secepat kenaikan harga barang dan jasa. Kondisi ini membuat daya beli masyarakat perlahan menurun karena uang yang dimiliki tidak lagi mampu membeli kebutuhan dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya.

Akibatnya, masyarakat harus mengurangi pengeluaran atau menunda kebutuhan tertentu agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

5. UMKM dan Pedagang Desa Tertekan

Pelemahan rupiah juga memberi tekanan pada pelaku usaha kecil di desa seperti warung, pedagang pasar, hingga UMKM lokal.

Harga barang dari distributor cenderung naik akibat meningkatnya biaya impor dan transportasi. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang menurun membuat penjualan usaha kecil ikut terpengaruh.

Menurut Yusuf Rendy Manilet, dampak pelemahan rupiah biasanya tidak langsung terasa sekaligus, melainkan berlangsung bertahap.

“Awalnya produsen atau distributor masih mencoba menahan harga. Tetapi jika kurs rupiah bertahan lemah dalam waktu lama, penyesuaian harga hampir tidak bisa dihindari,” ujarnya.

Para ekonom menilai stabilitas nilai tukar rupiah tetap penting dijaga karena berpengaruh terhadap harga barang, inflasi, hingga kondisi ekonomi masyarakat secara luas, termasuk di wilayah pedesaan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button