
Mahasiswa mendapatkan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari penguatan substansi gagasan, teknik penyusunan proposal, hingga penyesuaian format sesuai standar nasional PKM. Setiap proposal melalui proses evaluasi dan perbaikan berulang untuk memastikan kualitasnya semakin matang sebelum dikirimkan.
“Faktor yang paling menentukan adalah sistem pembinaan yang dilakukan secara intensif, disiplin, dan berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya dibimbing menyusun proposal, tetapi juga didampingi melalui proses review secara berkala agar kualitas proposal terus meningkat,” jelasnya.
Tidak hanya melibatkan dosen pendamping dan reviewer internal, proses pembinaan juga diperkuat dengan keterlibatan mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lolos PKM maupun Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
Pola kolaboratif tersebut dinilai efektif dalam membangun ekosistem belajar antarmahasiswa sekaligus meningkatkan kesiapan tim dalam menghadapi seleksi nasional.
Abdullah Sanusi memastikan pembinaan tidak berhenti pada tahap pendanaan. Seluruh tim yang lolos akan terus mendapatkan pendampingan dalam pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi kegiatan, penyusunan laporan, hingga persiapan menuju tahap PKP2 dan PIMNAS.





