
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR – Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi memasuki babak baru di Universitas Hasanuddin. Di tengah semakin masifnya pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan tinggi, Unhas memperkuat langkah strategis dengan membentuk Lembaga Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial yang dipimpin oleh Prof. Dr. Eng. Ir. Muhammad Niswar, S.T., M.InfoTech.
Pelantikan Prof. Niswar sebagai ketua lembaga berlangsung dalam Upacara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat dalam Lingkup Universitas Hasanuddin di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Selasa (7/7), bersama 20 pejabat lainnya yang turut mengemban amanah baru.
Pembentukan lembaga baru tersebut menjadi bagian dari strategi besar Unhas dalam membangun ekosistem kampus cerdas (smart campus) yang mampu mengintegrasikan teknologi digital dan AI ke dalam penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen Unhas untuk menghadirkan inovasi yang mampu menghasilkan tata kelola akademik yang lebih adaptif, efisien, dan berdampak.
Prof. Muhammad Niswar bukanlah sosok baru dalam pengembangan transformasi digital di lingkungan Unhas. Lahir di Ujung Pandang pada 22 September 1973, dirinya memiliki rekam jejak panjang dalam bidang teknologi informasi.
Dirinya pernah menjabat Direktur Sistem Teknologi Informasi Unhas. Sebelum memangku jabatan baru ini, Prof. Niswar adalah Kepala Unit Kerja Khusus (UKK) Layanan Sains dan Jasa Laboratorium Unhas. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mengawal percepatan transformasi digital yang kini menjadi salah satu agenda strategis universitas.
AI dan Dunia Pendidikan
Di tengah berkembangnya berbagai pandangan mengenai dampak AI terhadap dunia pendidikan, Prof. Niswar menilai bahwa kecerdasan artifisial tidak boleh diposisikan sebagai ancaman. Sebaliknya, AI harus dipahami sebagai teknologi yang mampu memperluas kapasitas manusia apabila dimanfaatkan secara tepat, bertanggung jawab, dan berlandaskan etika akademik.
“Banyak yang mengatakan AI akan membuat mahasiswa menjadi kurang berpikir. Saya justru melihat sebaliknya. Kita harus belajar hidup berdampingan dengan AI. Yang perlu dibangun bukan ketergantungan, tetapi kemampuan memanfaatkan AI untuk menghasilkan proses belajar yang lebih berkualitas dan lebih kritis,” jelas Prof. Niswar.
Pandangan tersebut menjadi landasan dalam pengembangan berbagai sistem berbasis AI yang akan diimplementasikan secara bertahap di Unhas. Salah satu fokus utama adalah pengembangan AI Powered Assessment and Proctoring, yaitu sistem yang mendukung dosen dalam menyusun instrumen evaluasi pembelajaran, menganalisis kualitas soal, hingga membantu pelaksanaan pengawasan ujian secara lebih objektif, efisien, dan akuntabel.
Selain itu, Unhas juga akan mengembangkan AI Powered Manuscript Review and Editing Tools untuk mendukung peningkatan kualitas publikasi ilmiah sivitas akademika. Teknologi tersebut dirancang membantu proses penyuntingan naskah, pemeriksaan struktur penulisan ilmiah, serta memberikan rekomendasi penyempurnaan manuskrip sebelum dipublikasikan pada jurnal nasional maupun internasional bereputasi.
Transformasi digital juga diarahkan pada penguatan sistem Data Processing and Analytics yang memungkinkan pengelolaan data institusi secara lebih terintegrasi. Melalui analisis berbasis AI, berbagai data akademik, penelitian, sumber daya manusia, hingga layanan administrasi dapat diolah menjadi informasi strategis yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat, akurat, dan berbasis bukti (evidence-based decision making).
Untuk mendukung implementasi tersebut, Universitas Hasanuddin juga menyiapkan infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi melalui rencana penyediaan mesin server yang akan menjadi fondasi berbagai aplikasi AI di lingkungan kampus. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menghadirkan sistem digital yang aman, andal, dan siap mengakomodasi kebutuhan pengembangan teknologi pada masa mendatang.
Menurut Prof. Niswar, keberhasilan transformasi digital tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang dimiliki, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi sivitas akademika. Karena itu, seluruh pengembangan AI di Unhas akan diarahkan pada prinsip tepat guna, inklusif, dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
“AI tidak boleh sekadar menjadi tren teknologi. AI harus menjadi mitra akademik yang membantu dosen mengajar lebih efektif, membantu mahasiswa belajar lebih mendalam, memperkuat kualitas riset, dan mendukung tata kelola universitas yang semakin cerdas. Di situlah transformasi digital menemukan maknanya,” tegas Prof Niswar.
Sejalan dengan pembentukan Lembaga Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial, Universitas Hasanuddin juga meluncurkan Artificial Intelligent System Unhas sebagai fondasi pengembangan berbagai layanan berbasis AI di lingkungan kampus.
Kehadiran sistem ini diharapkan menjadi akselerator lahirnya inovasi digital yang mampu meningkatkan mutu pembelajaran, memperkuat daya saing riset, mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, serta menempatkan Unhas sebagai perguruan tinggi berdampak yang siap memimpin transformasi pendidikan tinggi di era kecerdasan artifisial. (*/mir)





