Kerajinan Lokal Dari Kulit Pakis, Anyaman Teduhu Berupaya Jajal Pasar Nasional

SOLUSIMEDIA.ID,MAKASSAR– Inena Teduhu,sebuah komunitas anyaman teduhu yang berasal dari Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur Sukawesi Selatan, siang itu berhasil menarik perhatian para pengunjung Mall dengan berbagai produk yang di hadirkan dari anyaman teduhu di ajang Pendampingan Kewirausahaan dan Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM Wilayah Sekitar Tambang dan Hulu Migas yang digelar dalam rangka Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 di Makassar, 9–11 Juli 2026.
Saat ditemui di sela sela pameran, Yulianti, Ketua UMKM Anyaman Teduhu menceritakan keikutsertaannya pada ajang Dekranas, sambil ambil sesekali melayani pengunjung stand dan permintaan foto. Yulianti menuturkan ini kali pertama Inena Teduhu menjadi peserta pameran yang di fasilitasi PT Vale. Hal itu berawal dari pelatihan yang diselenggarakan perusahaan tersebut sekitar satu tahun lalu. Dirinya terlihat sibuk melayani permintaan wawancara dan foto dari para wartawan
“Dari hasil pembinaan itulah produk kami kini mulai di tampilkan dalam berbagai pameran,” ujar Yulianti.
Menurut Yulianti, pembinaan yang diberikan PT Vale Indonesia tidak hanya meningkatkan kemampuan para perajin, tetapi juga berdampak pada peningkatan omzet usaha. Keterampilan yang semakin baik membuat kualitas produk meningkat, sementara pendampingan untuk terus berinovasi membantu menghasilkan produk dengan desain yang lebih menarik dan nilai jual lebih tinggi.
“Setelah mengikuti pelatihan dan pembinaan dari PT Vale, kami merasakan adanya peningkatan omzet. Itu karena kemampuan dan keterampilan para perajin semakin meningkat. Kami juga terus didorong untuk berinovasi dalam mengembangkan produk,” jelasnya.
Pada Dekranas tahun ini, Anyaman Teduhu menampilkan produk-produk fesyen seperti tas, serta berbagai perlengkapan rumah tangga. Ia pun memperlihatkan satu persatu display kerajinan yang terpajang di stand Inema Teduhu siang itu.
Produk Anyaman Teduhu dibuat dari bahan baku kulit pakis, tepatnya bagian inti atau lapisan terdalam batang pakis. Bahan tersebut melalui tiga tahapan pengerjaan, yaitu dua tahap pengupasan dan satu tahap penghalusan. Setelah siap dianyam, ditambahkan rangka dari rotan, kemudian proses penganyaman dilakukan secara manual. Proses pembuatannya cukup lama karena teknik anyamnya dilakukan satu per satu.
“ Satu produk dapat diselesaikan sekitar satu minggu dengan catatan pengerjaannya tidak dilakukan secara penuh selama seharian,” kata Yulianti
Menurut Yulianti, pihaknya telah mengikuti pendampingan kewirausahaan PT Vale bersama dari 20 orang lainnya dari Kecamatan Nuha. Selain itu, ada juga program pelatihan regenerasi bagi peserta berusia di bawah 25 tahun yang sudah berjalan sejak tahun lalu hingga sekarang.
Dirinya berharap anyaman Teduhu semakin dikenal, dan dilirik masyarakat. Melalui pameran berskala nasional seperti Dekranas, pengunjung dari berbagai daerah dan provinsi lain diharapkan bisa memperluas pasar anyaman lokal teduhu dan eksistensi produknya terus meningkat.
“ Manfaat mengikuti pameran bukan hanya dari sisi penjualan, kami juga bisa belajar dari produk-produk daerah lain, mendapatkan referensi baru, melihat tren pasar, mengetahui kebutuhan konsumen, serta mengambil inspirasi dari stand-stand peserta lainnya,” harap Yulianti
Dengan hadir di ajang pameran UMKM Inena Teduhu terus berupaya melakukan pengembangan desain dan menciptakan berbagai produk baru. Berkat inovasi tersebut, nilai jual produk juga meningkat.
Dari sisi inovasi, Anyaman Teduhu terus melakukan pengembangan desain dan menciptakan produk-produk baru meski tetap menggunakan bahan baku utama yang sama. Inovasi tersebut membuat tampilan produk semakin menarik sekaligus meningkatkan nilai tambah dan harga jual.
Untuk omzet khusus dari pameran Dekranas tahun ini, Yulianti optimistis ajang berskala nasional tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap penjualan sekaligus membuka peluang pasar baru.
Di tengah perkembangan pemasaran digital, Anyaman Teduhu juga mulai beradaptasi dengan memperkuat promosi melalui media sosial. Meski pengelolaannya saat ini belum maksimal dan pemasaran masih lebih banyak dilakukan secara offline, kelompok perajin tersebut mulai mendorong digitalisasi agar produk dapat menjangkau konsumen yang lebih luas
PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) sejauh ini terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasional melalui penguatan produk kriya lokal. Hal ini menjadi bagian dari strategi investasi sosial perusahaan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya lokal melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Saat ini, PT Vale membina dua kelompok pengrajin, yakni Komunitas Teduhu dari Desa Nuha yang beranggotakan 12 pengrajin dengan bahan baku pakis hutan, serta Komunitas Sampa Konao dari Desa Matano yang terdiri atas 10 pengrajin muda yang memanfaatkan pelepah pohon aren sebagai material utama.
Selain pembinaan, perusahaan juga memperluas pasar produk kriya tersebut dengan menjadikannya sebagai suvenir resmi bagi tamu korporat serta memasarkannya melalui jaringan hotel dan galeri.
Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, sebelumnya mengatakan perusahaan tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga memastikan keberlanjutan tradisi menganyam melalui regenerasi pengrajin muda.
“Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi sekaligus menjaga kelestarian tradisinya. Karena itu, kami memberikan pendampingan mulai dari pemanfaatan bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), penguatan manajemen usaha, hingga membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Yusri.
Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian bersama Wakil Ketua II Dekranas Sri Suparni Bahlil Lahadalia yang menyempatkan mengunjungi stan PT Vale menyatakan apresiasinya terhadap kerajinan lokal teduhu dan semangat parra pengrajin muda dalam menjaga warisan budaya.
Sri Suparni Bahlil mengatakan pembinaan yang dilakukan perusahaan telah melahirkan generasi baru pengrajin yang siap bersaing dan terus meningkatkan kualitas produknya melalui berbagai pelatihan.
Bagi PT Vale, pelestarian anyaman teduhu bukan sekadar menjaga sebuah kerajinan tradisional. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan investasi sosial untuk memastikan budaya lokal tetap hidup, memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan di wilayah sekitar operasional perusahaan.(*)





