
SOLUSIMEDIA.ID,MAKASSAR -Universitas Hasanuddin (Unhas) melepas 125 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Tahun 2026 yang akan bertugas di sejumlah kawasan transmigrasi strategis di Indonesia Timur melalui Program Patriot Transmigrasi yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan perguruan tinggi harus hadir di tengah masyarakat dengan menghadirkan solusi nyata melalui riset, inovasi, dan pendampingan. Para Patriot akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memetakan potensi wilayah, mengidentifikasi tantangan, serta mengembangkan program sesuai kebutuhan lokal.
Program ini mendapat antusiasme tinggi dengan 1.182 pendaftar dari berbagai perguruan tinggi. Setelah melalui seleksi berlapis, terpilih 125 peserta yang akan ditempatkan di Fakfak, Muna, Kolaka, Konawe, Luwu Timur, dan Sidrap hingga Desember 2026. Sebagai simbol dimulainya pengabdian, Rektor Unhas menyerahkan bendera kepada perwakilan Tim Ekspedisi Patriot, sekaligus mengamanahkan semangat kolaborasi, integritas, dan pengabdian untuk mendukung pembangunan kawasan transmigrasi yang berkelanjutan.
Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot berlangsung di Ruang Senat Lantai 2, Gedung Rektorat Unhas, Kamis (23/7), dipimpin langsung oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan pemerintah daerah lokasi penugasan, pimpinan universitas, serta para peserta yang dijadwalkan mulai diberangkatkan ke lokasi penugasan pada 31 Juli mendatang.
Mewakili Tim Pengelola Ekspedisi Patriot Unhas, drg. Nursyamsi, M.Kes., menjelaskan proses rekrutmen dimulai sejak awal Juni 2026 dan mendapat antusiasme tinggi dengan jumlah pendaftar 1.182 orang, terdiri atas 842 peserta dari berbagai perguruan tinggi mitra dan 340 peserta dari Unhas. Setelah melalui proses seleksi, 803 peserta kemudian mengikuti tahapan _self-assessment_ dan wawancara daring dalam dua gelombang sebelum akhirnya ditetapkan 125 peserta sebagai Patriot Transmigrasi Tahun 2026.
Program Tim Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari Program Patriot Transmigrasi yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi sebagai model kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam memperkuat pembangunan kawasan. Melalui program ini, para Patriot akan menerapkan keahlian sesuai bidang masing-masing melalui riset, kajian, dan pendampingan masyarakat guna menghasilkan solusi yang relevan dengan karakteristik setiap wilayah sekaligus mendorong pengembangan potensi lokal secara berkelanjutan.
Menurut drg. Nursyamsi, proses seleksi tidak hanya mengukur kompetensi akademik, tetapi kemampuan bekerja dalam tim, memfasilitasi masyarakat, hingga kapasitas mengimplementasikan program sesuai kebutuhan wilayah penugasan.
Sementara itu salah satu daerah tujuan penugasan, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Fakfak, Lud Masrur Kamudi menyatakan kesiapannya menyambut para peserta dan mendukung seluruh rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian. Pemerintah daerah berharap kehadiran tim dapat menjadi penguat dalam menggali serta mengembangkan potensi lokal sehingga mampu mendorong peningkatan kualitas kawasan transmigrasi secara berkelanjutan dari waktu ke waktu.
“Kami berkomitmen untuk terus mengawal pelaksanaan Program Patriot Transmigrasi selama para peserta berada di lapangan. Seluruh persiapan telah dilakukan, dan kami menantikan kedatangan Tim Ekspedisi Patriot dari Makassar untuk memulai kolaborasi dalam mengembangkan potensi kawasan transmigrasi serta menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelas Lud Kamudi.
Sebelum melepas secara resmi, Rektor Unhas, Prof. JJ menyampaikan Program Patriot Transmigrasi merupakan langkah strategis pemerintah dalam menghubungkan kapasitas perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan kawasan. Selama masa penugasan, para patriot akan berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah untuk memetakan potensi wilayah, mengidentifikasi berbagai tantangan pembangunan, serta merancang dan mengimplementasikan program yang relevan dengan karakteristik dan kebutuhan lokal.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading yang menghasilkan pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan harus hadir di tengah masyarakat, menjadi solusi atas persoalan nyata, serta memberikan dampak bagi pembangunan kawasan,” tegas Prof. JJ.unh(*)





