
Syamsudin mengatakan, berbagai metode tersebut dikembangkan untuk mengurangi volume sampah organik yang dikirim ke TPA sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi energi, pakan, pupuk, dan produk lain yang bermanfaat.
Melinda berharap praktik baik yang dilakukan Yayasan Peduli Negeri bersama masyarakat tersebut dapat direplikasi oleh lebih banyak komunitas, lingkungan, dan keluarga di Kota Makassar.
Menurutnya, perubahan besar dalam pengelolaan sampah tidak selalu dimulai dari program berskala besar, tetapi dapat tumbuh dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dari rumah.
“Kalau setiap lingkungan memiliki kepedulian seperti ini, saya yakin persoalan sampah di Kota Makassar dapat kita tangani bersama. Semakin banyak warga yang bergerak, semakin ringan beban kota dan semakin besar dampak positif yang bisa kita hadirkan,” tutupnya. (*)





