
SOLUSIMEDIA.ID, MAROS — Potensi wisata Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, berhasil diangkat ke dalam karya audiovisual yang membawa mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) meraih penghargaan Video Terbaik dalam ajang Youth in Action 2.
Penghargaan tersebut diraih Tim DEKOMPAK dalam ajang yang digelar PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). Karya yang mereka hasilkan merekam perjalanan proyek sosial selama tiga bulan dalam mendampingi masyarakat dan pelaku wisata di kawasan Rammang-Rammang.
Melalui proyek tersebut, Tim DEKOMPAK tidak sekadar memproduksi video, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dan pelaku wisata. Program yang dijalankan mencakup aspek komunikasi, keselamatan, ekonomi kreatif, kebersihan, hingga fasilitas pendukung pariwisata.
Ketua Tim DEKOMPAK, Nur Hikmah, mengatakan proyek sosial tersebut berlangsung selama April hingga Juni. Rammang-Rammang dipilih karena dinilai memiliki potensi wisata besar yang masih dapat dikembangkan melalui penguatan kapasitas masyarakat setempat.
“Kami melihat Rammang-Rammang memiliki potensi wisata yang sangat besar. Karena itu, kami mencoba melihat kebutuhan di lapangan dan merancang program yang dapat mendukung masyarakat serta pelaku wisata, mulai dari kemampuan berkomunikasi dengan wisatawan, keselamatan, pengelolaan konten, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal,” jelas Hikma.
Salah satu program yang dijalankan yakni Pelatihan Guiding bagi masyarakat dan pelaku wisata. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pemandu dalam memberikan informasi mengenai destinasi sekaligus membangun komunikasi yang baik dengan wisatawan.
Tim DEKOMPAK juga memberikan perhatian pada aspek keselamatan melalui Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dilaksanakan bersama IATTA. Materi yang diberikan berfokus pada pemahaman keselamatan dalam aktivitas wisata, terutama bagi pelaku yang berhadapan langsung dengan wisatawan.
Penguatan kapasitas juga dilakukan di ranah digital melalui Pelatihan Content Management. Masyarakat dan pengelola wisata dibekali kemampuan mengelola informasi serta membuat konten yang lebih kreatif untuk memperkenalkan potensi Rammang-Rammang kepada khalayak yang lebih luas.
Di bidang ekonomi kreatif, Tim DEKOMPAK mengembangkan pelatihan pembuatan suvenir dengan memanfaatkan daun nipah sebagai bahan lokal. Mereka juga turut mendukung pelayanan wisata melalui pengadaan rompi bagi pengemudi perahu, tempat sampah, serta petunjuk arah di kawasan wisata.
Menurut Hikmah, penghargaan yang diraih menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim. Namun, pengalaman berinteraksi dan bekerja secara langsung bersama masyarakat justru menjadi bagian paling berharga dari proyek tersebut.
“Penghargaan ini tentu suatu kebanggaan bagi kami, tetapi pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat adalah hal yang paling berharga. Kami belajar bahwa kontribusi tidak harus selalu dalam bentuk yang besar, tetapi bisa dimulai dari kebutuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Dosen pembimbing Tim DEKOMPAK sekaligus Ketua GPM PR Gugus Penjaminan Mutu Peningkatan Reputasi Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Dr. Tuti Bahfiarti, S.Sos., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar memahami teori, tetapi juga bagaimana menerapkannya ketika berhadapan dengan kebutuhan masyarakat. Mereka belajar mengidentifikasi persoalan, menyusun program, membangun komunikasi, dan bekerja bersama masyarakat,” jelas Prof. Tuti.
Ia menilai pendekatan komunikasi yang diterapkan Tim DEKOMPAK memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Menurutnya, kemampuan masyarakat dalam menyampaikan informasi, berinteraksi dengan wisatawan, serta mengelola komunikasi melalui platform digital dapat menjadi modal penting dalam memperkuat daya tarik sebuah destinasi.
“Komunikasi dalam konteks ini tidak berhenti pada penyampaian informasi. Komunikasi juga merupakan bagian dari proses membangun keterlibatan masyarakat agar mereka memiliki kapasitas untuk mengelola dan menyampaikan potensi daerahnya sendiri,” tambah Prof. Tuti.
Dalam proses penggarapan video, Tim DEKOMPAK juga memperoleh pendampingan dari Cahyo Alkantana, pembuat film dokumenter alam sekaligus pelopor ekowisata asal Yogyakarta yang dikenal melalui pengembangan Gua Jomblang.
Pendampingan tersebut membantu tim menerjemahkan rangkaian kegiatan sosial yang dilakukan di Rammang-Rammang ke dalam karya audiovisual yang mampu menggambarkan proses pengabdian sekaligus potensi wisata kawasan tersebut.
Program yang dijalankan Tim DEKOMPAK juga dinilai sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kapasitas pelaku wisata dan ekonomi kreatif.
Selain itu, kegiatan tersebut mendukung SDGs 11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pengembangan destinasi berbasis masyarakat, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan bahan dan potensi lokal.
Penghargaan Video Terbaik diserahkan dalam rangkaian Awarding Youth in Action 2 yang berlangsung di Ballroom Lt. M, Gedung PAMA 2, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Direktur KPP Mining, Wahyu Widaryanto.
Tim DEKOMPAK terdiri atas Nur Hikmah sebagai ketua, bersama anggota Mufida Saediman Mboe, Husnul Hatima, dan Urfiah Umar. Tim tersebut dibimbing Prof. Dr. Tuti Bahfiarti, S.Sos., M.Si. dan Cahyo Alkantana.
Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan ilmu komunikasi tidak hanya untuk menghasilkan karya, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguatan masyarakat dan pengembangan potensi wisata daerah. (*)





