MakassarNews

Antrean BBM di SPBU Merembet ke Pertamini, Warga Makassar Tetap Harus Mengantre

SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Antrean panjang pengisian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Makassar, Sulawesi Selatan, mulai merembet ke Pertamini. Warga yang berharap dapat mengisi BBM tanpa harus mengantre di SPBU ternyata tetap menghadapi kondisi serupa.

Seorang warga mengaku memilih Pertamini setelah melihat antrean panjang di SPBU. Namun, harapannya untuk mendapatkan BBM dengan lebih cepat tidak terwujud karena Pertamini juga dipadati pembeli.

“Saya berpikir ke toko kelontong isi di Pertamini, ternyata antre juga, samaji,” kata warga usai mengisi Pertalite, Kamis (10/9).

Dalam beberapa hari terakhir, warga Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, menghadapi persoalan ketersediaan energi. Kelangkaan tidak hanya terjadi pada BBM jenis Solar dan Pertalite, tetapi juga LPG 3 kilogram serta pasokan listrik.

Kondisi tersebut membuat warga harus rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Antrean panjang salah satunya terlihat di SPBU Pettarani pada Rabu (9/9) pagi.

BACA JUGA  Hari Terakhir di Balai Kota, Danny Titip 4 Pesan untuk Kota Makassar

Selain menghambat aktivitas warga, antrean kendaraan juga berdampak pada arus lalu lintas. Bus dan truk bahkan disebut mengular hingga sekitar dua kilometer.

“Kita lihat sendiri bus dan truk antre sampai dua kilometer. Dari jam 06.00 sampai 09.00 WITA, itu juga majunya hanya satu langkah,” keluh warga tersebut.

JMSI Soroti Beban Ekonomi Warga

Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Selatan menyesalkan kondisi kelangkaan BBM dan LPG yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Ketua JMSI Sulsel, Ilham Husain, mengatakan, tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat kini diperparah dengan waktu yang harus terbuang untuk mengantre BBM.

“Sepanjang Indonesia merdeka, ini paling parah. Mobil antre di mana-mana dengan antrean panjang,” kata Ilham dalam keterangannya di Makassar.

BACA JUGA  Rakerda JMSI Fokus Penguatan Perusahaan Pers agar Lebih Profesional

Menurut pria yang akrab disapa Itol tersebut, antrean panjang BBM tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap kegiatan ekonomi.

“Kondisi ini mengganggu aktivitas ekonomi, memicu pemborosan waktu, dan meningkatkan beban biaya hidup. Kita dipaksa keliling mencari SPBU yang masih memiliki stok,” tegasnya.

Ia menilai, masyarakat seharusnya dapat menggunakan waktu untuk bekerja dan menjalankan aktivitas produktif. Namun, kelangkaan BBM membuat warga harus menghabiskan waktu di jalan demi mendapatkan bahan bakar.

“Ekonomi masyarakat lesu, kini makin diperparah dengan antrean BBM, LPG, dan ditambah mati lampu,” pungkasnya.

Ilham berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengatasi persoalan ketersediaan BBM serta LPG agar masyarakat tidak terus menghadapi antrean panjang dan kesulitan memperoleh kebutuhan energi. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button