
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Krisis air bersih akibat kekeringan di Kota Makassar terus meluas. Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperluas penanganan dengan meningkatkan cakupan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan.
Hingga Kamis (10/9/2026), sebanyak 246 titik telah masuk dalam cakupan distribusi air bersih BPBD Makassar. Angka tersebut meningkat dari asesmen awal yang mencatat 173 titik terdampak.
Perluasan penanganan juga terjadi pada cakupan wilayah. Jika sebelumnya distribusi dilakukan di enam kecamatan dan 27 kelurahan, kini operasi telah menjangkau delapan kecamatan dan 47 kelurahan.
Jumlah warga yang masuk dalam cakupan penanganan juga mengalami peningkatan signifikan. Dari sebelumnya 13.929 kepala keluarga atau 47.252 jiwa, kini mencapai 20.409 KK atau 70.684 jiwa.
Untuk memperkuat operasi di lapangan, BPBD Makassar mengerahkan 25 kendaraan operasional, terdiri dari empat mobil pemadam kebakaran, empat mobil tangki, tiga mobil pikap, serta 14 mobil dump truck.
Seluruh armada tersebut telah melakukan sebanyak 473 rit perjalanan dengan total air bersih yang disalurkan mencapai 2.026.900 liter atau sekitar 2.026,9 meter kubik.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Dr. H. M. Fadli Tahar, mengatakan peningkatan jumlah titik distribusi menunjukkan bahwa penanganan kekeringan harus terus menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan data awal dalam menjalankan operasi tanggap darurat. Setiap perkembangan kebutuhan warga harus diikuti dengan penyesuaian respons dan pengerahan sumber daya.
“Kita tidak bisa bekerja hanya berdasarkan data awal. Ketika kebutuhan di lapangan bertambah, maka respons pemerintah juga harus ikut bergerak,” kata Fadli.
Ia menjelaskan, distribusi air bersih bukan sekadar aktivitas logistik untuk mengirimkan air ke wilayah terdampak. Lebih dari itu, operasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama sumber air mengalami keterbatasan.
“Setiap liter air yang kita distribusikan memiliki arti bagi masyarakat. Ada kebutuhan rumah tangga, anak-anak, lansia dan aktivitas sehari-hari yang harus tetap berjalan,” ujarnya.
73 Titik Baru Masuk Penanganan
Bertambahnya jumlah titik distribusi menjadi salah satu indikator semakin luasnya dampak kekeringan di Makassar.
Dari 173 titik yang teridentifikasi dalam asesmen awal, kini terdapat 73 titik tambahan sehingga total lokasi yang masuk dalam operasi distribusi mencapai 246 titik.
BPBD menyesuaikan pengerahan armada dan jumlah rit perjalanan berdasarkan perkembangan kebutuhan di setiap wilayah. Langkah tersebut dilakukan agar distribusi air dapat menjangkau sebanyak mungkin warga dengan sumber daya yang tersedia.
Fadli menegaskan, evaluasi terhadap titik distribusi akan terus dilakukan selama kondisi kekeringan masih berlangsung. Data terbaru di lapangan menjadi dasar bagi BPBD untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Krisis bisa bergerak. Karena itu respons juga tidak boleh statis. Data hari ini harus menjadi dasar untuk menentukan tindakan berikutnya,” tegasnya.
Penanganan kekeringan, lanjut Fadli, juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah bersama perangkat wilayah, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, relawan, dan masyarakat perlu bergerak dalam satu sistem agar bantuan dapat menjangkau lebih banyak warga.
Bagi Pemkot Makassar, distribusi air bersih menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi kekeringan.
“Target kita bukan sekadar berapa banyak liter air yang terdistribusi. Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak warga yang bisa kita bantu dan seberapa cepat kita hadir ketika mereka membutuhkan,” pungkas Fadli.
BPBD Makassar memastikan operasi distribusi air bersih akan terus berjalan dengan menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan hingga kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi. (*)





