
Ia menjelaskan, pengelolaan air secara terpadu perlu mempertimbangkan keseimbangan antara efisiensi ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Penilaian kondisi badan air juga tidak hanya dilakukan berdasarkan jumlah atau ketersediaan air. Aspek kualitas turut menjadi perhatian melalui indikator fisik, kimia, dan biologis.
Berbagai aktivitas manusia seperti pertanian, urbanisasi, limpasan air hujan, pembuangan limbah, hingga kegiatan industri disebut memberikan tekanan terhadap kualitas dan kuantitas sumber daya air.
Kondisi tersebut semakin kompleks dengan adanya perubahan iklim. Karena itu, pemantauan lapangan perlu didukung model hidrologi dan model kualitas air agar perubahan kondisi perairan dapat dipahami dan risiko pencemaran dapat diperkirakan.
Salah satu topik yang dibahas dalam kegiatan tersebut yakni kontaminan baru di lingkungan perairan. Beberapa di antaranya berupa residu antibiotik, bahan kimia farmasi, produk perawatan pribadi, serta mikroplastik.
Prof. Kumarasamy turut memaparkan studi pemodelan kualitas air yang dilakukan pada daerah aliran sungai di Afrika Selatan. Penelitian tersebut menggunakan sampel dari 18 lokasi yang dianalisis di laboratorium dan kemudian dipadukan dengan model matematis.





