
Karena itu, pemotongan akar dinilai bukan solusi jangka panjang. Akar yang dipotong berpotensi kembali tumbuh dan merusak pedestrian sehingga diperlukan strategi penanganan yang lebih menyeluruh.
Rully mendorong agar pohon yang berpotensi menimbulkan konflik dengan infrastruktur diganti dengan jenis yang memiliki karakter perakaran lebih sesuai. Ia juga menyarankan penggunaan pohon natif Sulawesi agar lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat.
Selain pemilihan jenis pohon, ruang tumbuh akar menjadi perhatian dalam desain pedestrian. Menurut Rully, keberadaan lubang tanam saja tidak cukup karena akar membutuhkan ruang, air, dan oksigen untuk berkembang.
Konsep tersebut dapat diterapkan melalui penyediaan ruang tanah di bawah pedestrian dengan material perkerasan yang memungkinkan air meresap, seperti beton berpori. Dengan demikian, akar tetap memiliki ruang tumbuh tanpa mudah muncul dan merusak permukaan pedestrian.
Revitalisasi dua ruas tersebut sendiri memiliki total panjang sekitar 652,9 meter, terdiri dari sekitar 427,9 meter di Jalan Kajaolalido dan 225 meter di Jalan MH Thamrin.





