
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus memperluas program iuran sampah gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Di Kecamatan Wajo, program tersebut kini berpotensi menyasar 2.432 rumah, meningkat 1.308 rumah dibandingkan sasaran sebelumnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Wajo, Ivan Kalalembang, mengatakan perluasan sasaran dilakukan setelah pendataan terbaru. Sebelumnya, program mencakup rumah dengan daya listrik 450 Volt Ampere (VA) dan 900 VA.
Dari pendataan tersebut, terdapat 1.124 rumah dengan daya listrik 450 VA dan 900 VA yang menjadi sasaran. Sementara tambahan dari kategori rumah dengan daya listrik 1.300 VA mencapai 653 rumah.
“Jumlah potensinya kalau kita gabung 2.432. Jadi ada kenaikan sebesar 1.308 dari 1.124 di tahun 2025/2026. Setelah kami lakukan pendataan, mengalami peningkatan,” ujar Ivan, Minggu (27/9/2026).
Perluasan program tersebut berjalan beriringan dengan penguatan pengelolaan sampah dari sumber. Kecamatan Wajo kini memiliki 24 Bank Sampah Unit (BSU) yang tersebar di sejumlah kelurahan.
Melalui BSU, masyarakat didorong memilah sampah anorganik sejak dari rumah sebelum disetorkan ke unit terdekat. Sampah kemudian ditimbang dan dicatat sebagai tabungan sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA Tamangapa.
“Total BSU yang ada di Kecamatan Wajo hingga saat ini sebanyak 24 unit. Ini berfungsi untuk pemilahan sampah dan juga memiliki nilai ekonomis,” jelasnya.
Selain pengelolaan sampah rumah tangga, Kecamatan Wajo juga memperkuat pengawasan terhadap sampah dari kawasan Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar.
Langkah tersebut dilakukan seiring penerapan sistem pengelolaan TPA Tamangapa yang diarahkan menuju sanitary landfill serta kewajiban pemilahan sampah.
Dari hasil monitoring, Kecamatan Wajo menemukan aktivitas pembuangan sampah dari kapal yang belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan Perwali Makassar Nomor 13 Tahun 2025, khususnya terkait pemilahan.
Sejak 26 Juli 2026, Kecamatan Wajo bersama pihak terkait mengimbau agar sampah dari kapal Pelni tidak lagi dibuang ke TPA Tamangapa sampai terdapat kesepakatan mengenai mekanisme pengelolaannya.
Ivan menyebut aktivitas kapal dapat menghasilkan sekitar 24 ton sampah per hari. Dengan penghentian pembuangan sampah kapal Pelni ke TPA Tamangapa selama lebih dari satu bulan, diperkirakan sekitar 440 ton sampah berhasil dikurangi dari beban TPA.
Saat ini, sampah dari aktivitas Pelni dikelola secara mandiri di kawasan pelabuhan. Sementara sampah dari Pelindo masih diangkut Kecamatan Wajo setelah melalui proses pemilahan.
Program iuran sampah gratis dan penguatan pemilahan tersebut menjadi bagian dari upaya Kecamatan Wajo mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata, sekaligus mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Tamangapa. (*)





