
Udang yang dipanen memiliki ukuran berkisar 32–80. Variasi ukuran tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan dalam proses budidaya pada masing-masing kolam.
Menurut Prof. JJ, pengelolaan tambak tidak hanya berkaitan dengan capaian produksi, tetapi juga bagaimana setiap tahapan budidaya dilakukan secara terukur. Pengaturan kepadatan, waktu panen, teknik pemanenan, hingga pengelolaan kolam pascapanen merupakan bagian dari rangkaian yang menentukan keberlanjutan produksi.
“Dari sisi akademik, tambak Unhas di Jeneponto juga memiliki fungsi sebagai ruang penerapan dan pengembangan pengetahuan di bidang perikanan. Data produksi dan proses budidaya yang diperoleh dari lapangan dapat digunakan untuk mengevaluasi efisiensi teknik budidaya udang vaname serta mendukung pengembangan teknologi perikanan berbasis kondisi lingkungan setempat,” kata Prof. JJ.
Pengelolaan secara bertahap tersebut diharapkan tidak hanya mempertahankan produktivitas tambak, tetapi juga mendukung pemanfaatan kawasan sebagai bagian dari pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi perikanan Unhas.(*/aya)





