
Menurutnya, pendekatan integratif tersebut memungkinkan kawasan Cikoang dikembangkan sebagai _living laboratory_ bagi Unhas. Kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui keterlibatan sivitas akademika dalam kegiatan riset, pembelajaran, rekayasa, serta pengembangan inovasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah pesisir.
“Kawasan ini dapat digunakan untuk mengimplementasikan ilmu yang dikembangkan di Unhas. Misalnya, bidang teknik perkapalan dapat melakukan kegiatan di sini, sekaligus berkolaborasi dengan bidang ilmu lainnya,” kata Prof. JJ.
Pengembangan kawasan juga diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui penguatan aktivitas ekonomi lokal. Integrasi antara teknologi kemaritiman, pengelolaan sumber daya pesisir, pertanian, dan peternakan diharapkan membentuk ekosistem produktif yang saling mendukung.
Dalam proses pengembangannya, Unhas akan membuka kolaborasi dengan sejumlah mitra strategis, di antaranya PT PAL, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Kabupaten Takalar. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat aspek teknologi, riset, pengembangan industri, hingga pemanfaatan kawasan.





