
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar telah menyalurkan 7.191.000 liter air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan ekstrem akibat kemarau panjang.
Distribusi bantuan tersebut menjangkau sekitar 26.000 kepala keluarga (KK) atau 98.664 jiwa yang tersebar di sembilan kecamatan di Kota Makassar.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, HM Fadli Tahar, mengatakan penyaluran air bersih dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, terutama bagi warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air selama masa tanggap darurat kekeringan.
“Hingga saat ini, total air bersih yang telah disalurkan mencapai 7.191.000 liter. Bantuan tersebut menjangkau 1.646 RT, 332 titik distribusi, serta sekitar 26.000 kepala keluarga atau 98.664 jiwa yang tersebar di sembilan kecamatan,” kata Fadli, Minggu (11/10/2026).
Ia memastikan operasi distribusi air bersih masih akan berlanjut selama dampak kekeringan belum sepenuhnya teratasi. BPBD juga terus berupaya mengoptimalkan pelayanan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Menurut Fadli, dukungan dari berbagai pihak menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelangsungan penanganan kekeringan di Makassar.
“Untuk penanganan kondisi kekeringan di Kota Makassar, sesuai dengan status tanggap darurat, kami terus mendapatkan dukungan untuk melanjutkan kegiatan ini,” ujarnya.
Selain menjaga kesinambungan distribusi, BPBD Makassar juga mengubah pola penyaluran agar lebih efisien. Jika sebelumnya warga harus mengantre sambil membawa jeriken untuk mendapatkan air dari mobil tangki, kini tandon air ditempatkan di sejumlah wilayah terdampak berdasarkan hasil asesmen lapangan.
Skema ini memungkinkan masyarakat mengambil air secara mandiri tanpa harus menunggu pengisian satu per satu dari mobil tangki. Di sisi lain, armada distribusi dapat kembali mengisi persediaan lebih cepat sehingga jangkauan pelayanan menjadi lebih luas.
“Dengan adanya tandon di lokasi-lokasi terdampak yang menjadi tempat berkumpul masyarakat, efektivitas penyaluran meningkat,” tutur Fadli.
Perubahan pola distribusi tersebut turut meningkatkan frekuensi pengisian air oleh armada. Mobil tangki yang sebelumnya hanya mampu kembali sekitar dua kali sehari kini dapat melakukan pengisian dua hingga tiga kali dalam sehari.
“Mobil tangki yang sebelumnya hanya bisa kembali sekitar dua kali sehari, sekarang bisa melakukan dua hingga tiga kali pengisian dalam sehari,” sambungnya.
Untuk menunjang operasi tersebut, BPBD Makassar mengerahkan 25 mobil tangki setiap hari. Masing-masing kendaraan memiliki kapasitas angkut sekitar 4.400 liter dan dapat melakukan dua hingga tiga kali distribusi, menyesuaikan kebutuhan serta kondisi operasional di lapangan.
Fadli menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau.
Di tengah upaya penanganan yang masih berlangsung, BPBD mulai mencatat perkembangan positif pada sejumlah sumber air. Pasokan dari Perumda Air Minum Kota Makassar dilaporkan mulai meningkat, sedangkan beberapa sumur yang sebelumnya terdampak kekeringan kembali dapat dimanfaatkan.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kebutuhan pengiriman air menggunakan mobil tangki di sejumlah wilayah. Meski demikian, BPBD tetap melanjutkan distribusi untuk memastikan warga yang belum memperoleh akses air bersih tetap mendapatkan bantuan.
Fadli menyebut pihaknya akan terus mendampingi masyarakat hingga kondisi berangsur pulih, sesuai arahan Wali Kota Makassar yang menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar warga sebagai prioritas selama masa tanggap darurat.
“Kami terus mendampingi dan memberikan bantuan kepada masyarakat, sesuai arahan Bapak Wali Kota, sampai kondisi kekeringan ini segera berakhir,” katanya.
Selain memastikan pasokan air bersih, BPBD Makassar turut mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kesehatan selama kemarau panjang. Keterbatasan air berpotensi mengganggu kebersihan diri dan lingkungan sehingga perlu diantisipasi untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Karena itu, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui distribusi bantuan, tetapi juga disertai kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca dan potensi bencana lainnya.
“Karena itu, kami tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga terus mempersiapkan langkah antisipasi menghadapi perubahan cuaca dan potensi bencana,” tutup Fadli.
Melalui distribusi yang terus dioptimalkan, BPBD Makassar berharap kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak tetap terpenuhi hingga sumber air kembali normal dan kondisi kekeringan berakhir. (*)





