
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Makassar mencatat 402 kejadian kebakaran hingga akhir Oktober 2026. Jumlah tersebut melampaui catatan tertinggi dalam lima tahun terakhir, sehingga meningkatkan kebutuhan penguatan kesiapsiagaan dan pelayanan pemadam kebakaran di wilayah kota.
Kepala Damkarmat Kota Makassar, Fadli Wellang, mengatakan tingginya angka kebakaran menjadi perhatian serius, terlebih masih ada dua bulan tersisa sebelum tahun 2026 berakhir.
Ia menyampaikan hal tersebut di Kantor Balai Kota Makassar, Rabu (28/10/2026), seusai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Berdasarkan data Damkarmat Makassar, jumlah kebakaran pada 2021 tercatat sebanyak 138 kasus, kemudian meningkat menjadi 151 kasus pada 2022. Angka tersebut melonjak menjadi 395 kasus pada 2023, sebelum turun menjadi 383 kasus pada 2024 dan 258 kasus pada 2025.
Namun, hingga akhir Oktober 2026, jumlah kejadian kembali meningkat menjadi 402 kasus, melampaui rekor sebelumnya pada 2023.
Fadli menjelaskan, kebakaran lahan kosong dan pembakaran sampah tanpa pengawasan menjadi sejumlah pemicu yang banyak ditemukan sepanjang tahun ini. Kondisi cuaca panas dan lingkungan kering turut meningkatkan risiko kebakaran, meski penyebab kejadian juga dapat berasal dari korsleting listrik, kebocoran tabung gas, maupun penggunaan kompor yang tidak aman.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Warga diminta memeriksa instalasi listrik secara berkala, memastikan penggunaan kompor dan tabung gas dalam kondisi aman, serta tidak membakar sampah atau alang-alang tanpa pengawasan.
Selain pencegahan dari lingkungan rumah, masyarakat juga diimbau menjaga akses jalan dan lorong permukiman tetap terbuka agar kendaraan pemadam dapat menjangkau lokasi kejadian dengan lebih cepat.
Kebutuhan Personel Capai 900 Orang
Di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran, Damkarmat Makassar masih menghadapi keterbatasan sumber daya operasional.
Saat ini, instansi tersebut memiliki sekitar 432 personel lapangan dan kurang lebih 54 kendaraan operasional, termasuk mobil pemadam serta kendaraan pendukung suplai air.
Menurut Fadli, jumlah personel yang tersedia masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 900 orang. Artinya, terdapat kekurangan sekitar 468 personel untuk mendukung pelayanan secara optimal.
Keterbatasan tersebut menjadi tantangan dalam merespons laporan kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat dengan akses jalan dan lorong yang sempit. Kondisi di lokasi juga dapat semakin sulit ketika warga berkerumun dan menghambat pergerakan petugas maupun kendaraan operasional.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Damkarmat Makassar menilai penambahan posko pemadam di sejumlah wilayah perlu menjadi perhatian. Posko yang lebih dekat dengan masyarakat diharapkan dapat memperpendek waktu respons ketika terjadi kebakaran.
Penempatan posko juga perlu mempertimbangkan sebaran permukiman, tingkat risiko kebakaran, serta jangkauan pelayanan agar petugas dapat menjangkau lokasi kejadian secara lebih efektif.
Namun, penambahan posko harus diikuti dengan ketersediaan personel dan armada yang memadai. Tanpa dukungan tersebut, fasilitas baru berpotensi belum mampu memberikan pelayanan maksimal.
Fadli menegaskan, penguatan pelayanan pemadam kebakaran tidak cukup hanya dengan menambah fasilitas. Kecukupan sumber daya manusia, kendaraan operasional, dan kesiapan petugas juga menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan kebakaran.
Warga Diminta Ikut Cegah Kebakaran
Di balik tingginya angka kejadian, petugas Damkarmat Makassar dituntut selalu siap merespons laporan, baik siang maupun malam hingga dini hari. Mereka harus bergerak cepat untuk memadamkan api, menyelamatkan warga, dan menekan risiko kerugian material maupun korban jiwa.
Tantangan tersebut semakin besar ketika petugas menghadapi akses lokasi yang sulit atau harus membagi sumber daya untuk menangani beberapa kejadian sekaligus.
Karena itu, Fadli menekankan bahwa upaya menekan angka kebakaran membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pemerintah perlu memperkuat fasilitas dan kapasitas pelayanan, sedangkan masyarakat berperan penting dalam mencegah munculnya sumber api.
Pemeriksaan instalasi listrik, penggunaan peralatan memasak secara aman, serta penghentian kebiasaan membakar sampah tanpa pengawasan menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan warga untuk mengurangi risiko kebakaran.
Dengan jumlah kejadian yang telah mencapai 402 kasus hingga akhir Oktober 2026, peningkatan kesiapsiagaan petugas dan kesadaran masyarakat diharapkan dapat menekan risiko kebakaran sekaligus memperkuat perlindungan bagi warga Kota Makassar. (*)





