
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus mendorong pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah di tingkat rumah tangga hingga pengolahan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa.
Langkah tersebut meliputi penataan kawasan TPA, penguatan bank sampah, pemanfaatan sampah organik, hingga pengembangan gas metana sebagai sumber energi alternatif.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengangkutan dan penumpukan di TPA. Diperlukan perubahan perilaku masyarakat serta sistem pengolahan yang berkelanjutan untuk mengurangi beban sampah kota.
Menurut pria yang akrab disapa Appi tersebut, kebersihan lingkungan juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan citra Kota Makassar sebagai daerah yang terus berkembang, termasuk dalam menarik investasi dan kunjungan wisata.
“Pembenahan lingkungan harus menjadi prioritas karena wajah kota yang bersih dan sehat merupakan salah satu faktor yang membentuk kesan pertama bagi orang yang datang ke Makassar,” ujar Appi, Kamis (29/10/2026).
Ia menegaskan, pemerintah perlu mengambil langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan lingkungan, termasuk melalui kebijakan yang mungkin tidak selalu populer. Kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan, kata dia, harus menjadi pertimbangan utama.
“Saya mengambil keputusan untuk memastikan hal yang paling jorok terlebih dahulu, dan itu yang harus dibenahi,” katanya.
Salah satu perhatian utama Pemkot Makassar saat ini adalah pembenahan TPA Tamangapa yang telah lama menghadapi persoalan penumpukan sampah. Kawasan seluas sekitar 21 hektare tersebut memiliki timbunan sampah dengan ketinggian signifikan sehingga membutuhkan penanganan secara terencana.
Sebagai bagian dari pembenahan, pemerintah mulai menata area penimbunan, termasuk menerapkan cover soil atau pelapisan tanah pada timbunan sampah. Upaya tersebut dilakukan untuk memperbaiki sistem pengelolaan di kawasan TPA.
Namun, Appi mengingatkan bahwa pembenahan di hilir harus berjalan beriringan dengan pengurangan sampah dari sumbernya. Tanpa pemilahan sejak rumah tangga, volume sampah yang masuk ke TPA akan terus meningkat dan berisiko memperberat kapasitas pengolahan.
“Pembenahan di hilir tetap harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat di hulu,” ujarnya.
Sampah Organik Pasar Diolah Jadi Pakan Ternak
Selain penataan TPA, Pemkot Makassar juga berupaya mengurangi timbunan sampah melalui pemanfaatan material organik yang masih memiliki nilai guna.
Appi mengungkapkan, sampah organik dari pasar-pasar di Makassar diperkirakan mencapai 30 hingga 50 ton setiap hari. Jumlah tersebut dinilai berpotensi dimanfaatkan kembali melalui pengolahan yang tepat, salah satunya sebagai pakan ternak.
Meski demikian, pemanfaatan tersebut perlu didukung penataan lokasi pemeliharaan agar aktivitas peternakan tidak mengganggu proses pengelolaan sampah.
Di samping itu, pemerintah mulai mengembangkan pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah sebagai energi alternatif. Potensi tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi sampah yang selama ini hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan.
“Yang lebih penting, hari ini kita sudah mulai dengan energi hijau dari metana yang ada di sampah itu. Potensinya bisa dimanfaatkan untuk masyarakat, termasuk sebagai energi untuk memasak sehari-hari,” jelasnya.
Pengelolaan air lindi atau cairan yang berasal dari timbunan sampah juga menjadi bagian dari perhatian Pemkot Makassar. Appi menilai, fasilitas pengolahan air lindi perlu diperkuat, termasuk dengan menambah titik pengolahan sesuai kebutuhan kawasan TPA.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi potensi pencemaran lingkungan dan melindungi masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi pengolahan sampah.
Bank Sampah Didorong Beri Nilai Ekonomi bagi Warga
Pada sisi hulu, Pemkot Makassar berupaya memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga dan lingkungan permukiman.
Masyarakat didorong memisahkan sampah organik dan anorganik agar material yang masih memiliki nilai ekonomis dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali.
Salah satu upaya yang akan diperkuat adalah pengembangan bank sampah hingga tingkat kelurahan, rukun warga (RW), dan rukun tetangga (RT).
Melalui sistem tersebut, sampah seperti plastik dapat dikumpulkan untuk kemudian dijual sehingga menghasilkan pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Appi menilai, pendekatan ekonomi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan keterlibatan warga dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Kalau masyarakat diminta memilah sampah, mereka harus melihat manfaatnya. Mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan plastik. Inilah yang harus kita bangun bersama,” ujar Appi.
Dengan demikian, kegiatan memilah sampah tidak hanya menjadi bagian dari tanggung jawab menjaga kebersihan, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi di tingkat masyarakat.
Pemkot Makassar pun mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung sistem pengelolaan sampah, mulai dari rumah tangga, pelaku usaha, pengelola kawasan komersial, hingga sektor swasta yang memiliki kemampuan dalam pengembangan teknologi pengolahan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan teknologi sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Appi menekankan, persoalan sampah membutuhkan konsistensi kebijakan dan komitmen jangka panjang. Menurutnya, penanganan yang terus ditunda hanya akan membuat persoalan lingkungan semakin membebani generasi mendatang.
“Kalau kita tidak memulai, perubahan itu tidak akan pernah terjadi,” tegas mantan CEO PSM tersebut.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan kota. Pemerintah, kata dia, perlu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan tetap memastikan setiap bentuk kerja sama berjalan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Melalui pembenahan dari hulu hingga hilir, Pemkot Makassar menargetkan pengurangan volume sampah yang berakhir di TPA, peningkatan kualitas lingkungan, serta pemanfaatan sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Penataan TPA Tamangapa, pengolahan sampah organik, pemanfaatan gas metana, penguatan bank sampah, dan edukasi pemilahan sampah diharapkan dapat berjalan saling mendukung dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
“Perubahan harus dimulai dari sumbernya, didukung sistem pengolahan yang memadai, dan dijalankan melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” tutup Munafri Arifuddin. (*)





