
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi profesi kesehatan untuk mengembangkan Makassar sebagai pusat layanan kesehatan unggulan sekaligus destinasi medical tourism di kawasan Indonesia Timur.
Upaya tersebut dinilai memiliki peluang besar mengingat Makassar telah didukung sejumlah rumah sakit, infrastruktur kesehatan, serta sumber daya manusia (SDM) tenaga medis yang cukup memadai.
Hal itu disampaikan Munafri saat menghadiri Silaturahmi dan Pertemuan Ilmiah Berkala Nasional (SPINAL) ke-6 Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (IKA FK UMI) di Hotel Four Points by Sheraton, Jalan Andi Djemma, Makassar, Sabtu (31/10/2026).
Munafri mengatakan, potensi yang dimiliki Makassar perlu dioptimalkan agar masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia Timur dapat memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas tanpa harus berobat ke luar daerah maupun luar negeri.
Menurutnya, pelayanan kesehatan yang optimal merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, pembangunan sektor kesehatan tidak cukup hanya berorientasi pada penyediaan fasilitas, tetapi juga harus diimbangi dengan tenaga medis profesional, berintegritas, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi.
“Rumah sakit, infrastruktur kesehatan hampir lengkap di kota ini. Tenaga-tenaga kesehatan, dokter dan supporting-nya juga banyak sekali,” ujarnya.
Ia menilai, posisi Makassar sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus salah satu kota terbesar di Indonesia Timur menjadi modal penting untuk dikembangkan sebagai pusat rujukan kesehatan regional.
“Kota Makassar ini punya peluang yang sama untuk bisa besar. Kita tidak hanya ingin menghadirkan infrastruktur kesehatan, tetapi juga membangun yang namanya medical tourism,” tuturnya.
“Orang datang ke Makassar bukan hanya untuk berkunjung, tetapi juga mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik,” sambung Munafri.
Selain penguatan fasilitas, ia juga menyoroti perkembangan teknologi kedokteran yang membuka peluang bagi Makassar untuk menghadirkan layanan medis lebih modern, akurat, dan personal.
Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah kedokteran presisi, yakni metode pelayanan yang tidak hanya menangani gejala penyakit, tetapi juga mengidentifikasi penyebab serta kondisi mendasar yang dialami pasien.
Bahkan, Munafri berharap Makassar dapat mengembangkan ekosistem pelayanan kesehatan terintegrasi seperti Mayo Clinic di Amerika Serikat, yang dikenal dengan pendekatan komprehensif melalui kolaborasi berbagai dokter spesialis.
Di sisi lain, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Di antaranya persoalan kasus HIV dan tuberkulosis (TB), serta jangkauan fasilitas pelayanan kesehatan yang masih perlu ditingkatkan.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, Makassar membutuhkan pengembangan infrastruktur kesehatan yang lebih merata dan terencana, termasuk optimalisasi rumah sakit milik pemerintah daerah.
Munafri menegaskan, pembangunan sektor kesehatan merupakan investasi kemanusiaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Pemerintah Kota Makassar secara bertahap terus berupaya membenahi berbagai persoalan ini,” jelasnya.
Untuk itu, ia mengharapkan Fakultas Kedokteran UMI beserta para alumninya dapat berkontribusi lebih luas melalui gagasan, keahlian, dan rekomendasi strategis dalam mendukung pembangunan kesehatan di Makassar.
Menurutnya, keterlibatan kalangan akademisi dan tenaga medis sangat dibutuhkan untuk mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
“Harapan saya kepada para alumni Fakultas Kedokteran UMI, ayo kita bersama-sama dengan pemerintah. Banyak hal yang bisa kita lakukan dan banyak orang yang menanti kita dalam rangka membangun kesehatan di kota ini,” ajaknya.
Munafri juga berharap SPINAL ke-6 tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antarlulusan Fakultas Kedokteran UMI, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai ruang pertukaran ilmu pengetahuan, penguatan jejaring profesi, serta perumusan solusi atas berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
Ia menegaskan, Pemkot Makassar terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi dengan kalangan akademisi dan profesi kesehatan UMI untuk membangun ekosistem kesehatan perkotaan yang unggul.
“Pemerintah Kota Makassar selalu membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi seluruh jajaran rumpun kesehatan UMI untuk bersama-sama membangun ekosistem kesehatan perkotaan yang unggul dan inklusif,” pungkasnya. (*)





