BusinessNews

RI Catat Rekor Baru Capai Surplus Dagang 5,49 Miliar Dolar AS

SOLUSIMEDIA.ID, JAKARTA — Indonesia kembali membuktikan ketangguhannya di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada Agustus 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 5,49 miliar, meningkat tajam dibandingkan bulan Juli yang mencatatkan surplus USD 4,17 miliar. Lonjakan ini menjadi kabar baik sekaligus memperpanjang catatan manis Indonesia yang telah membukukan surplus perdagangan selama 64 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, mengungkapkan bahwa kinerja ekspor nonmigas menjadi motor utama pencapaian ini. Dari total surplus, sektor nonmigas menyumbang USD 7,15 miliar. Beberapa komoditas unggulan yang menopang surplus antara lain lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). Tiga kelompok produk ini berhasil mendongkrak nilai ekspor ke sejumlah negara mitra dagang utama, sekaligus menunjukkan bahwa sektor pengolahan dan hilirisasi semakin berperan dalam perekonomian nasional.

Namun, di balik capaian positif tersebut, sektor migas masih menjadi pekerjaan rumah. Defisit perdagangan migas pada Agustus 2025 tercatat sebesar USD 1,66 miliar, naik dari defisit bulan sebelumnya yang berada di angka USD 1,58 miliar. Komoditas penyumbang defisit terbesar adalah minyak mentah dan produk minyak olahan, yang masih harus diimpor dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor migas masih cukup tinggi, meski upaya diversifikasi energi tengah digencarkan.

BACA JUGA  Prabowo Dijadwalkan Kunjungi Jepang Akhir Maret 2026, Bahas Indo-Pasifik dan Kerja Sama Strategis

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Agustus 2025, neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus besar mencapai USD 29,14 miliar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024, yang hanya membukukan surplus USD 19,01 miliar. Dari sisi ekspor, nilai yang dicapai selama delapan bulan pertama tahun ini mencapai USD 185,13 miliar, atau naik 7,72% dibandingkan tahun lalu.

Lebih rinci, ekspor migas justru turun cukup dalam, yakni 14,14% menjadi USD 9,04 miliar. Sebaliknya, ekspor nonmigas tumbuh kuat hingga 9,15% menjadi USD 176,09 miliar. Sektor industri pengolahan dan pertanian tercatat menjadi penopang utama pertumbuhan. Produk hasil hilirisasi mineral, besi baja, serta komoditas pertanian seperti kelapa sawit, kopi, dan karet masih menjadi andalan di pasar global.

Dari sisi impor, Indonesia mencatat nilai USD 155,99 miliar hingga Agustus 2025, atau naik tipis 2,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas turun 12,82% menjadi USD 21,11 miliar, namun impor nonmigas justru meningkat 4,85% mencapai USD 134,88 miliar. Peningkatan impor nonmigas terutama dipicu oleh tingginya permintaan terhadap barang modal, yang menunjukkan geliat aktivitas industri serta investasi domestik masih cukup kuat.

BACA JUGA  Prabowo Subianto Matangkan Strategi ART Jelang Kunjungan ke AS

Jika melihat mitra dagang, Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi negara penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia. Dengan Amerika Serikat, surplus mencapai USD 12,20 miliar, disusul India sebesar USD 9,43 miliar, dan Filipina USD 5,85 miliar. Capaian ini menegaskan pentingnya pasar ekspor tradisional bagi Indonesia, di samping upaya membuka akses ke negara-negara nontradisional.

Meski catatan surplus terus berlanjut, para pengamat ekonomi menilai Indonesia perlu tetap waspada. Tantangan global seperti perlambatan ekonomi Tiongkok, fluktuasi harga komoditas, hingga tensi geopolitik masih bisa mempengaruhi kinerja perdagangan ke depan. Selain itu, defisit migas yang terus melebar dapat menjadi ancaman jika tidak segera diatasi melalui peningkatan produksi energi domestik maupun diversifikasi sumber energi alternatif.

Secara keseluruhan, capaian Agustus 2025 menunjukkan bahwa fundamental perdagangan Indonesia masih sangat kokoh. Surplus besar ini tidak hanya memperkuat cadangan devisa, tetapi juga menjadi sinyal positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah dan daya saing ekonomi nasional. Jika tren positif berlanjut, tidak menutup kemungkinan tahun 2025 akan menjadi salah satu tahun dengan rekor surplus perdagangan terbesar dalam sejarah Indonesia.(*)

Lihat Semua

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button