
“Saya senang para pembudidaya membawa pertanyaan sendiri untuk diajukan kepada narasumber. Mereka sangat antusias,” tambah Musakkar.
Para narasumber juga mempraktikkan teknik budidaya ikan Nilasa menggunakan tujuh kolam terpal bulat berdiameter 3 meter, dengan setiap kolam mampu menampung hingga 100 ekor ikan per meter kubik. Dengan demikian, total kapasitas tujuh kolam dapat mencapai 4.900 ekor ikan.
Nilasa diketahui memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, mencapai 90 persen, serta tahan terhadap berbagai penyakit, dengan tingkat panen yang mencapai 96 persen.
Musakkar menjelaskan bahwa masa budidaya dari bibit hingga panen hanya memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat bulan, dan potensi hasil panen dapat mencapai 1.176 ton dengan nilai jual sekitar Rp27 ribu per kilogram. Ini berarti, para pembudidaya berpotensi meraih pendapatan sekitar Rp31 juta setiap kali panen.
Untuk memulai budidaya dengan metode bioflok, investasi awal yang diperlukan sekitar Rp20 juta, mencakup pengadaan kolam, blower, dan peralatan lainnya.
Setelah itu, pembudidaya hanya perlu menyiapkan biaya tetap sekitar Rp6,5 juta per bulan, serta biaya operasional sekitar Rp17,5 juta untuk pakan dan kebutuhan lainnya. Dengan perhitungan ini, laba yang bisa diperoleh sekitar Rp7,6 juta per siklus panen.





