
Pemateri selanjutnya, Muhammad Taufik dari Tim Polimetrik Indonesia, menyampaikan materi mengenai sistem pendataan keluarga terintegrasi (SPKT) dan teknis implementasinya di lapangan.
Taufik menjelaskan proses pengumpulan data mulai dari variabel-variabel penting seperti jumlah anggota keluarga, status gizi, hingga akses sanitasi dan pendidikan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga validitas data melalui sistem pengawasan berlapis.
“Benchmark pelaksanaan SPKT adalah keseragaman, konsistensi, dan keberlanjutan data. Tanpa itu, data hanya akan menjadi arsip yang tidak berguna dalam pengambilan kebijakan,” tegasnya.
Ia juga mengajak ketua dasawisma untuk aktif melakukan verifikasi lapangan, menyusun laporan secara berkala, dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung pencatatan data yang efisien.
Sesi berikutnya diisi oleh narasumber ketiga, Mirzam, yang menjelaskan tentang perencanaan timeline dan struktur pelaksanaan SPKT di Kota Makassar. Ia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk memastikan keberhasilan program ini.
“Penerapan SPKT membutuhkan koordinasi antara pengurus TP PKK, dinas teknis, serta pemerintah kecamatan dan kelurahan. Kita perlu peta jalan yang jelas dari pelatihan hingga integrasi data ke sistem kota,” katanya.





