In Memoriam Azwar Hasan : Binter, Kijang Tua, John Perkins dan Amplop Rejeki

SOLUSIMEDIA.ID,MAKASSAR-Nun di bulan Oktober 2003.
“Ada tamu ta’, Pak, di bawah” kata satpam kantorku di pagi hari,.
Saya turun, menyambut Pak Aswar. Kami sudah janjian untuk talkshow. Stasiun radio yang turut saya dirikan baru saja launching. Sebagai radio yang berposisi News, kami lapar narasumber. Aswar Hasan adalah salah satu “relawan” kami. Beliau selalu merespon kalau kami menghubungi.
Sosok yang cukup tambun itu sedang memarkir motor Binternya. Kepalanya masih ber-helm. Coklat. Berpengikat dagu. Dia menepuk-nepuk tangki bensin sambil berkata: andalanku!
Sore di penghujung Desember 2024. Gempa dan Tsunami menghantam Aceh. Kami live keliling kota sambil mengumpulkan donasi. Jelang maghrib kami ngetem di depan Country Club, Boulevard Panakkukang. Beberapa detik usai live melintas sebuah mobil kijang tua. Bodi cacat sana sini. Cat terkelupas atas bawah, kiri kanan, depan belakang. Asap mengepul dari knalpot. Itu oto susah lari. Plat merah.
Dari jendela kiri depan menyembul kepala berkaca mata. Tangan kanannya melambai ke arah kami.
“Kenny!” Cukup keras tapi tidak dalam mode teriak. Tegas, terukur. Suara Pak Aswar terdengar dari remang senja dan berisik oto.
Kami hanya sempat mengangkat kedua tangan dan membalas :
” Pak Ketuaaaa!
Lalu saya, driver, dan operator di OB Van Suara Celebes ketawa nakal.
“Kodoooong mobilnya Pak Aswar??”.
Sebelum jam 8 malam masuk SMS dari Pak Aswar.
” Dinda. Kenapa mobilku tadi diketawakan? Itu mobil Negara. Saya sudah syukur dapat mobil dinas “.
Waduh, dari mana Pak Aswar tahu?
Beliau adalah Ketua Komisi Penyiaran (!) Hancur mak saiah. Saya langsung menelpon.
“Maaf, Pak Ketua, kami hanya spontan. Prihatin. Tidak bermaksud menghina”.
Tidak apa-apa, Dek, jawab Pak Aswar. Masalahnya: kenapa di Udara? Ada yang dengar.
“Kalau di Udara, Dinda, itu artinya Publik. Tersiar. Itu adalah Produk Media. Kalau cuma ji di warkop ndak masalah Dinda”.
Kalimat pendek yang penuh nutrisi ilmu. Tak ada yang bisa saya sanggah. Saya meminta maaf bertubi-tubi [Belakangan setelah ngecek ke tim live, rupanya pemancar mini OB Van belum dimatikan. Suara kami masuk. Terpancar, dan turut didengar Pak Aswar. Beliau awalnya memaklumi. Tetapi setelah sampai di rumah ada koleganya yang menelpon. Menanyakan kenapa mobil dinasnya. Setelah menunaikan shalat isya barulah Pak Aswar mengirim sms ke saya].
Beberapa pekan kemudian Pak Aswar menelpon.
“Kenny, saya dapat Innova. Sampe mi di telinganya Pak Gub mobil dinasku tua. Terima kasih, Dinda”.
Saat saya mengelola sebuah program talkshow di Makassar TV tahun 2005, Pak Aswar kembali menjadi “juru selamat”. Cukup menelpon, Beliau datang. Bulan November usai acara Pak Aswar memberi saya sebuah buku. Dengan pesan: kalau sudah selesai baca, kasi’ kembali.
“Nanti saya dibilang orang bodo'”, katanya sambil tergelak tawa. [
Ada istilah dari Alm. Asdar Muis RMS: Hanya orang bodo’ yang kasi kasi’ pinjam bukunya. Lebih bodo’ lagi si peminjam, kalo buku itu dia kasi’ kembali].
A Confessions of an Economic Hit Man. Bukan fiksi. Pengakuan Seorang Bandit Ekonomi. Buku karya John Perkins itu begitu kuat dan realistis. Bukan hanya karena ditulis mantan Bandit Ekonomi yang masih hidup, tetapi di antara sejumlah negara di Timur Tengah dan Amerika Latin, salah satu locus “petualangan” Perkins adalah Sulawesi Selatan.

The Confessions memberikan gambaran yang jelas mengapa sampai ada PLTA Bakaru di Pinrang, pertambangan nikel INCO di Luwu (termasuk PLTA Larona sebagai sumber energinya), dan peternakan besar di kawasan Ajattapareng. Untuk merintis masuknya kapital blok Amerika menggarap potensi-potensi SDA itu Perkins bekerja undercover di bawah institusi Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat: USAID.
“Cilaka”nya, saat mendalami isi the Confessions, saya sedang dalam tahap perekrutan ke dalam salah satu program USAID untuk Sulawesi Selatan. Untuk menjadi contractor pada bidang konsultansi Penguatan Media.
Beberapa bulan kemudian saya menghubungi Pak Aswar. Untuk menjadi Narsum. Dengan meminta Curriculum Vitae.
Kenapa sekarang harus pake CV, Ken? tanya Beliau. Saya bilang: “Ini program USAID, Pak Aswar”.
Dari ujung telpon Beliau berucap “Eh, kapan Kenny mau kasi’ kembali bukuku?”. Kami ketawa bareng-bareng. “CV-ta’ mo dulu, Kanda”, kataku, “Ndak pa-pa ji USAID, Kanda, die’?”. Kalau untuk kebaikan, jawab Pak Aswar, mengapa tidak?
CV Pak Aswar lolos background check di kantor pusat kami di Jakarta. Padahal CV itu mencantumkan jabatan Beliau sebagai Sekjen KPPSI. SI-nya adalah Syariat Islam. Dengan bercanda saya bilang ke Pak Aswar: berarti Bapak tidak pernah terlibat di Moro. Pak Aswar terkekeh-kekeh.
Anak pertama saya lahir. April 2006. Sebagai pria yang baru saja menjadi seorang Ayah, saya menyebarkan kabar bahagia itu lewat SMS ke daftar kontak. Ratusan ucapan selamat masuk. Saya tidak lagi ingat satu per satu siapa saja yang memberi ucapan. Keesokan harinya datang seorang Ibu berhijab ke rumah bersalin. Naik becak. Kalau tidak salah ditemani seorang anak kecil. Saya tidak kenal. Tapi rupanya Bu Aswar Hasan.
“Bapak lagi ada acara KPID di luar kota, kata Bu Aswar.
“Selamat atas kelahiran anak, ta’, Pak. Ini ada titipan dari Bapak”.
Sepulang Bu Aswar saya mengirim SMS ke Pak Aswar. Mengucapkan terima kasih. Dan, saya sedikit bercanda: kayaknya tebal-tebal ini amplop, Pak Aswar?
“kemarin pas dapat kabar Kenny sudah jadi Ayah, pas juga saya baru terima honor seminar., Itu rejeki anaknya Kenny, Saya hanya meneruskan”.
Untuk pertama kalinya Pak Aswar pernah menolak memberi komentar. Bukan kepada saya secara langsung, tapi kepada reporter yang stasiun radio kami tugaskan. Saya menelpon Pak Aswar. Penasaran kenapa.
“Kenny, saya ini memang MSi. Tapi buuukan master segala iiiiilmu. Yang ditanya reportermu bukan bidang ilmuku, bela”.
Suatu waktu, karena seorang staf kantor sering menyebut Pak Aswar dengan sebutan Ustadz, saya pun ikut menyebut begitu. Saat jeda sebuah acara diskusi di salah satu hotel. Kami bersama-sama menyantap kue-kue di area makan.
Pak Aswar mendekatkan wajah ke arahku dan berbicara agak serius.
“Kenny, jangan panggil-panggil saya Ustadz. Berat sekali, Dinda, disebut Ustadz. Tanggung jawabnya besar dan tidak mudah. Saya belum sampai pada kapasitas seorang Ustadz”.
Rabu malam. 13 Agustus 2025. Selepas ibadah rumah tangga mingguan Jemaat Gereja kami. Saya mengaktifkan hape. Air mataku jatuh. Aswar Hasan telah berpulang. Saya berharap, dan masih berharap, kabar itu hoax. (*Canny Watae )





