
“Kita punya produk dengan kualitas rasa yang baik, tapi yang sering kurang adalah cerita. Narasi ini yang membuat produk bisa punya identitas dan menarik daya beli masyarakat,” tegas Munafri.
Ia menegaskan bahwa narasi historis adalah pondasi utama dalam membangun branding Makassar. Ia yakin anak muda mampu memainkan peran besar dalam menghidupkan cerita itu.
Namun demikian, branding tersebut bukan sesuatu yang muncul dari narasi pengembangan. Tapi harus dibangun dari sejarah, dari budaya, dari identitas lokal.
Ia mencontohkan bagaimana daerah lain bisa menciptakan daya beli pengunjung luar kota karena berhasil mengaitkan produknya dengan identitas kultural sehingga menjadi ikon.
“Kalau orang ke Surabaya pulang bawa lapis ambon. Nah, kalau orang ke Makassar, apa yang bisa mereka bawa pulang? Kita harus punya produk khas yang didukung dengan cerita historis, bukan sekadar rasa atau kemasan,” pungkasnya.
Munafri lantas menyampaikan bahwa anak muda memiliki posisi strategis untuk membangun narasi historis itu. Generasi muda disebut lebih adaptif dan kreatif dalam mengemas cerita lokal agar relevan dengan pasar.





