
“Kehadiran Bapak-Ibu di Makassar membawa semangat untuk saling bertukar informasi, khususnya dalam bidang kebudayaan dan pariwisata. Kota Makassar sebagai pusat ekonomi di Indonesia Timur juga terus berupaya menjaga keseimbangan antara modernisasi dengan pelestarian adat dan budaya,” tambahnya.
Munafri lalu memperkenalkan potensi wisata unggulan Kota Makassar mulai dari sunset ikonik di Pantai Losari, pelayaran dengan kapal Pinisi yang telah diakui UNESCO, hingga ragam kuliner khas Makassar.
“Di Makassar ada dua larangan bagi tamu: pertama, dilarang diet karena makanan di sini terkenal enak. Kedua, dilarang cepat pulang—minimal dua sampai tiga hari tinggal di Makassar,” kelakar Munafri disambut tawa hangat para tamu.
Sementara itu, Datu Kamaruddin Muhammad Nur, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Pemkot Makassar. Ia menjelaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga langkah konkret menjalin kerja sama budaya, gastronomi, hingga promosi destinasi wisata.
“Kami ingin bertukar pengalaman, mulai dari tradisi, kuliner, hingga kawasan heritage yang tengah kami usulkan ke UNESCO. Dengan Makassar, kami melihat potensi kolaborasi yang besar,” ungkapnya.





