
“Jadi musik bagi orang Makassar sebenarnya bukan hanya bunyi, bukan hanya alatnya, bukan hanya pertunjukannya tapi hampir semua yang namanya produk kebudayaan bisa dinikmati,” ujar Abdi Karya.
“Banyak yang tahu lagu Anging Mamiri, Ati Raja. Nah, siapa penciptanya, pameran ini lewat Prolog Festival 2025. Ada benda-benda yang kita pasang di beberapa titik di Museum ini,” tambahnya.
Abdi menilai, festival ini menjadi momentum mempertemukan berbagai pihak dalam satu ruang dialog budaya yang hidup.
“Kami harapkan dari pameran ini lahir kolaborasi nyata antara pemerintah dan warga. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menampilkan inspirasi dan memori bersama, karena sesungguhnya banyak potensi dan kenangan yang kita simpan satu sama lain. Pameran ini menjadi momen untuk mempertemukan semua itu,” ujar Abdi.
Tidak hanya untuk kalangan dewasa, festival ini juga membuka ruang ekspresi bagi anak-anak melalui program “For Kids”, yang mengajak generasi muda mengekspresikan kreativitas mereka lewat musik dan seni.
“Kami ingin anak-anak Makassar juga dikenalkan lebih dini pada budaya kotanya. Mereka akan ikut tampil dan berkreasi, karena mereka adalah pewaris masa depan budaya kita,” jelas Abdi.





