
“Kita tidak ingin ada lagi persoalan hanya karena pembangunan rumah ibadah. Kita tidak mau konflik muncul hanya karena perbedaan pagar antarumat,” jelasnya.
“Tidak boleh ada diskriminasi jabatan dalam pemerintahan yang didasarkan pada perbedaan agama. Itu tidak boleh terjadi di Makassar,” lanjutanya.
Ia menambahkan bahwa seluruh elemen masyarakat Kota Makassar, harus mengambil peran dalam memperkuat solidaritas lintas iman.
Di luar akidah, semua bersaudara. Dan bisa berjalan bersama, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan baik.
“Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah belah kita,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Munafri menyampaikan pesan khusus kepada para pendeta, vikaris, dan pimpinan sinode GPIL untuk terus menjadi penyampai pesan kedamaian.
“Karena itu, mari kita menjaga tutur kata agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat memicu konflik,” tuturnya.
Orang nomor kosong satu Kota Makassar itu menekankan, bahwa toleransi bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui kerja sama lintas lembaga dan komunitas.
Lanjut dia, nilai toleransi tidak bisa berdiri sendiri. Ini adalah bentuk kolaborasi dan komitmen bersama agar dapat hidup rukun dan damai.





