
Kedua, Mewujudkan Makassar Inklusif. Munafri berharap dari sekretariat ini lahir program-program pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, hingga ke lorong-lorong Kota Makassar.
” Perawat adalah mata dan telinga pemerintah. Mereka memastikan setiap warga, tanpa memandang status sosial dan ekonomi, mendapatkan pelayanan kesehatan yang manusiawi, bermartabat, dan berkeadilan,” ujarnya.
Ketiga, Mewujudkan pelayanan yang “sombere”, sejalan dengan nilai budaya lokal. Ia menekankan bahwa perawat merupakan wajah pemerintah di hadapan pasien, sehingga nilai keramahan, ketulusan, dan empati harus terus dipupuk.
“Gedung ini harus menjadi ruang yang menumbuhkan nilai pelayanan yang ramah, tulus, dan penuh empati,” tambah Munafri.
Dalam kesempatan tersebut, Munafri juga menyinggung perhatian Pemerintah Kota Makassar terhadap peran strategis perawat dalam sistem kesehatan daerah.
Dengan jumlah penduduk Kota Makassar yang mencapai sekitar 1,4 juta jiwa dan didukung 47 puskesmas, ia menilai perawat harus dilibatkan secara maksimal, termasuk dalam posisi strategis.
“Kita harus menempatkan perawat yang memiliki jam terbang, kompetensi, dan spesialisasi pada posisi yang tepat. Bukan karena kepentingan politik, tetapi karena kebutuhan pelayanan,” tegasnya.





