
Dirinya menekankan pentingnya integrasi pengalaman Jepang dalam pengelolaan pesisir dengan potensi sumber daya dan keunggulan riset yang dimiliki Unhas.
“Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya melahirkan model restorasi mangrove yang berkelanjutan, tetapi juga memberikan dampak konkret bagi penguatan sektor kelautan dan perikanan. Kami meyakini, dengan kualitas para periset Unhas, pengelolaan kawasan pesisir berbasis sains dan inovasi dapat diwujudkan secara optimal,” jelas Prof Koike.
Sebagai tindak lanjut, kedua institusi merancang pilot project selama tiga tahun yang akan dilaksanakan di tambak Unhas, Kabupaten Barru.
Lokasi tersebut diproyeksikan sebagai laboratorium lapangan untuk menguji integrasi sistem rehabilitasi mangrove dengan budidaya perikanan yang produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Dalam implementasinya, Unhas menunjuk Pusat Kolaborasi Riset Shrimp Tech sebagai lead institution yang akan mengoordinasikan pelaksanaan program.
Pusat riset ini berperan dalam pengembangan model tambak berkelanjutan, rehabilitasi ekosistem mangrove, hingga integrasi teknologi budidaya berbasis sains.





