
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menggeneralisasi seluruh komunitas geng motor sebagai pelaku kejahatan.
Dia menyebut, terdapat pula kelompok-kelompok yang melakukan kegiatan positif dan membangun solidaritas di antara anggotanya.
“Kami melihat tidak semuanya bisa digeneralisasi. Ada juga komunitas yang membangun kebersamaan, solidaritas, dan praktik saling mendukung. Pendekatan kami adalah melihat persoalan ini secara lebih komprehensif,” tambahnya.
Lanjut dia, program Trauma Kota diinisiasi sebagai ruang temu antara seni, warga, dan pemerintah melalui rangkaian pameran foto, seni performansi, diskusi publik, serta lokakarya.
Kegiatan ini dirancang untuk digelar di lima kecamatan yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap fenomena geng motor, yakni Kecamatan Ujung Pandang, Mariso, Mamajang, Rappocini, dan Manggala.
Rangkaian kegiatan meliputi pameran foto yang menampilkan dokumentasi dan refleksi visual terkait fenomena geng motor.
Diskusi publik yang menghadirkan narasumber dari pihak kecamatan, penggagas program, serta rencana menghadirkan psikolog dari eksternal, hingga pertunjukan seni performansi di ruang publik.





