
Menurut Jufri, peran OJK bersama pelaku industri jasa keuangan sangat penting dalam mendorong peningkatan inklusi keuangan serta memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Sejalan dengan itu, kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan juga menunjukkan tren positif. Data terbaru per Januari 2026 menunjukkan total aset perbankan di Sulsel mencapai Rp212,19 triliun, dengan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp145,27 triliun dan penyaluran kredit mencapai Rp173,03 triliun.
Pertumbuhan kredit tercatat 5,56 persen secara tahunan (year on year) dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 3,76 persen, yang menunjukkan risiko kredit masih terkendali. Sementara rasio loan to deposit ratio (LDR) berada pada 119,11 persen, menandakan fungsi intermediasi perbankan masih kuat dalam mendorong aktivitas ekonomi.
Penyaluran kredit produktif terbesar di Sulsel tercatat pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp38,21 triliun, diikuti sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp15,80 triliun, industri pengolahan Rp8,32 triliun, serta sektor konstruksi Rp4,97 triliun.
Distribusi kredit juga masih didominasi oleh Kota Makassar dengan porsi 52,16 persen, disusul Kota Palopo 7,05 persen, Kota Parepare 4,15 persen, serta Kabupaten Bulukumba 4,08 persen.





