
Purbaya menegaskan, belanja negara difokuskan untuk mendukung program prioritas, termasuk perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur, dan penguatan sektor riil. “Belanja pemerintah diarahkan agar memberikan multiplier effect yang kuat terhadap ekonomi, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendorong investasi,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mencatat defisit keseimbangan primer sebesar Rp35,9 triliun. Namun, angka ini dinilai masih dalam batas aman dan mencerminkan pengelolaan fiskal yang disiplin.
Di tengah tekanan global, berbagai indikator ekonomi domestik menunjukkan kinerja positif. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,39 persen pada triwulan IV 2025, inflasi terkendali di level 4,76 persen, serta cadangan devisa mencapai 152 miliar dolar AS.
Purbaya turut menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. “Koordinasi dengan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga likuiditas, stabilitas pasar keuangan, serta memastikan transmisi kebijakan berjalan optimal,” tutupnya.(*)





