
Situasi semakin kompleks karena konflik di Timur Tengah telah berdampak luas terhadap ekonomi global, sekaligus memicu perpecahan politik di dalam negeri AS, khususnya di Partai Republik.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Salah satu faktor utama yang mendorong langkah agresif sekaligus diplomatis AS adalah penguasaan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan titik vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.
Hingga lebih dari tiga minggu konflik berlangsung, AS dinilai belum mampu menghentikan serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di wilayah tersebut.
Pakar keamanan nasional, Stephen Hadley, menilai penguasaan Selat Hormuz menjadi kunci bagi AS untuk mengklaim keberhasilan. Jika tidak, posisi politik Trump akan semakin sulit.
Tekanan Militer sebagai Alat Negosiasi
AS dilaporkan mengirim lebih dari 1.000 pasukan lintas udara dari Divisi 82 untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Sebagian analis menilai langkah ini bertujuan memperkuat posisi tawar dalam negosiasi. Mantan pejabat Departemen Keuangan AS, Miad Maleki, menyebut pengiriman pasukan bisa memberi kontrol lebih besar terhadap jalur strategis dan meningkatkan leverage diplomatik.





