
“Kalau kualitasnya bagus dan konsisten, kompos ini bisa menjadi produk unggulan. Apalagi kawasan Bulurokeng didominasi perumahan, ini peluang besar untuk dipasarkan ke pelaku urban farming,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mendorong kerja sama yang lebih terstruktur dengan pihak perumahan, termasuk dapur MBG, agar pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Lurah Bulurokeng, Muh. Mahar, menjelaskan kondisi pengelolaan sampah di wilayahnya. Ia menyebut sampah anorganik seperti plastik telah memiliki jalur distribusi jelas dengan dijual ke Pabrik 88, sehingga membantu mengurangi penumpukan.
Namun, keterbatasan armada masih menjadi kendala karena TPS3R hanya didukung dua unit mobil pengangkut untuk melayani sekitar 15.000 hingga 16.000 jiwa.
Di sisi lain, pengolahan sampah organik terus dikembangkan melalui metode TEBA yang telah menghasilkan tiga karung kompos.
Inovasi lain juga dilakukan dengan memproduksi eco-enzyme dari limbah kulit buah, serta memanfaatkan limbah pedagang ayam untuk diolah dalam sistem TEBA.
Kunjungan ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang terpadu, produktif, dan berkelanjutan di Kota Makassar. (*)





