
Ia mengingatkan bahwa kondisi ini dapat memicu krisis air bersih, mengganggu sistem irigasi pertanian, hingga menurunkan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat, terutama di wilayah dengan lahan gambut yang rentan terbakar saat musim kemarau panjang.
Meski demikian, fenomena ini tidak berdampak seragam di seluruh wilayah. Beberapa daerah di Indonesia bagian utara ekuator seperti Kalimantan dan Sumatra justru berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi, sehingga meningkatkan risiko banjir.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah didorong untuk melakukan langkah mitigasi yang berkelanjutan.
Di antaranya melalui pembangunan infrastruktur penampungan air seperti embung dan waduk kecil, penerapan sistem irigasi hemat air, serta penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan.
Selain itu, upaya reforestasi dan perlindungan lahan gambut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan siklus air.
Penguatan sistem pemantauan titik panas (hotspot) serta pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi bagian dari strategi mitigasi modern.





