INAPLAS Ungkap Lonjakan Harga Plastik Imbas Kenaikan Nafta akibat Konflik Timur Tengah

SOLUSIMEDIA.ID, JAKARTA — Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) mengungkapkan terjadinya lonjakan harga barang jadi plastik dalam sepekan terakhir.
Kenaikan tersebut dipicu oleh melonjaknya harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik, yang terdampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal INAPLAS, Fajar Budiono, menjelaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor nafta, dengan sebagian besar pasokan berasal dari Timur Tengah.
“Indonesia itu 100 persen masih impor nafta. Di mana nafta ini 70 persen berasal dari Middle East. Sehingga di minggu ketiga ini kita terjadi kelangkaan,” kata Fajar saat dihubungi, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, kondisi ini berpotensi membentuk harga baru di pasar bahan baku plastik. Ia menilai pola serupa pernah terjadi pada masa krisis ekonomi sebelumnya, seperti krisis moneter 1998 dan krisis keuangan global 2008.
“Mudah-mudahan polanya sama seperti di 2008 dan 1998, sehingga nanti pada saat selesai ini akan terjadi ketidakseimbangan,” tutur Fajar.
Di tengah keterbatasan pasokan dari Timur Tengah, INAPLAS kini mulai mencari alternatif sumber impor nafta dari kawasan lain. Beberapa wilayah yang menjadi opsi antara lain Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika.
“Di minggu kelima itu kita sudah mulai mencari alternatif masukan nafta di luar Middle East. Bisa dari Afrika, bisa dari Asia Tengah maupun dari Amerika,” tutur Fajar.
Namun demikian, langkah tersebut diperkirakan tetap akan berdampak pada kenaikan harga.
Hal ini disebabkan oleh perubahan rantai pasok, termasuk waktu pengiriman yang lebih lama serta peningkatan biaya logistik dan asuransi.
“Kalau dari Middle East ke Indonesia itu waktu pengiriman hanya 10 sampai 15 hari. Nah yang dari sumber di luar Middle East itu paling cepat adalah 50 hari. Sehingga supply chain akan berubah, karena waktu pengiriman berubah. Kemudian ongkos juga berubah, asuransi juga berubah, semuanya serba berubah,” ujar Fajar.
Selain mengandalkan impor, INAPLAS juga mendorong pemanfaatan bahan baku alternatif dari dalam negeri, seperti kondensat, LPG, maupun propana. Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap nafta impor.
“Ya pengganti nafta ini bisa dari kondensat, bisa dari LPG atau propana. Nah kalau dari kondensat sepertinya di Indonesia ada,” tutur Fajar.
Ia juga berharap pemerintah dapat membantu memetakan potensi bahan baku alternatif yang tersedia di dalam negeri guna menutup kekurangan pasokan nafta.
“Nanti tinggal kita bantuan ke pemerintah untuk kira-kira kondensat mana yang bisa kita gunakan, dan berapa volumenya, sehingga nanti bisa sedikit menambah kekurangan pasokan nafta yang selama ini sudah mulai langka,” ucapnya.
Di sisi lain, INAPLAS turut mendorong optimalisasi industri daur ulang plastik sebagai sumber bahan baku tambahan.
Menurut Fajar, penggunaan material daur ulang perlu ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku murni.
“Kalau selama ini masih menggunakan 100 persen virgin material plastik, sudah saatnya untuk mulai menggunakan campuran dengan recycle plastik. Jadi bisa mix antara 80 persen virgin, 20 persen recycle. Kenapa? Karena sebenarnya industri recycle di Indonesia masih undercapacity,” ujar Fajar.
(*)





