
Yovie juga mengangkat perspektif bahwa kreativitas merupakan cara paling relevan dalam merawat warisan budaya. Tradisi, menurutnya, tidak boleh dibekukan, melainkan perlu dihidupkan kembali melalui pendekatan kreatif yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Dalam konteks tersebut, inovasi berbasis akar budaya menjadi kunci. Yovie mengibaratkan proses ini seperti mengaransemen ulang karya lama menjadi bentuk baru yang lebih segar dan kontekstual. Pendekatan ini memungkinkan budaya tetap hidup sekaligus memiliki daya saing global.
“Teknologi kemudian hadir sebagai panggung baru bagi cerita budaya Indonesia. Melalui strategi branding, storytelling, dan distribusi digital, nilai-nilai lokal dapat melintasi batas geografis dan menjangkau pasar internasional,” tambah Yovie.
Namun demikian, Yovie tidak menutup mata terhadap tantangan besar yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan (AI). Dirinya mengisahkan fenomena di industri musik, di mana AI mampu menghasilkan karya hanya dalam hitungan menit, sebuah kondisi yang memicu refleksi mendalam tentang peran manusia dalam proses kreatif.
Fenomena tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga menyentuh aspek eksistensial. Banyak profesi kreatif mulai mempertanyakan makna dari perjalanan panjang yang selama ini mereka jalani, ketika mesin mampu menghasilkan output serupa dalam waktu singkat.





