
“Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi sekaligus menjaga kelestarian tradisinya. Karena itu, kami memberikan pendampingan mulai dari pemanfaatan bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), penguatan manajemen usaha, hingga membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Yusri.
Saat ini, PT Vale membina dua kelompok pengrajin, yakni Komunitas Teduhu dari Desa Nuha yang beranggotakan 12 pengrajin dengan bahan baku pakis hutan, serta Komunitas Sampa Konao dari Desa Matano yang terdiri atas 10 pengrajin muda yang memanfaatkan pelepah pohon aren sebagai material utama.
Selain pembinaan, perusahaan juga memperluas pasar produk kriya tersebut dengan menjadikannya sebagai suvenir resmi bagi tamu korporat serta memasarkannya melalui jaringan hotel dan galeri.
Salah seorang pengrajin teduhu asal Desa Nuha, Yulianti, mengaku pendampingan PT Vale memberikan dampak positif terhadap perkembangan kerajinan di desanya. Tradisi menganyam yang telah diwariskan sejak 1970-an kini terus berkembang, baik dari sisi desain maupun ragam produk.





